Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Olah Raga Berlebih Pengaruhi Kinerja Fisik dan Otak

Senin 07 Oct 2019 09:38 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi Olah Raga

Ilustrasi Olah Raga

Foto: Republika/Mardiah
Sindrom Overtraining adalah bentuk kelelahan tingkat tinggi pada atlet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi dari Hôpital de la Pitié-Salpêtrière Paris, Prancis menemukan bahwa olah raga tidak hanya menyebabkan kelelahan otot tetapi juga memengaruhi kinerja otak. Para peneliti menyimpulkan, olah raga berlebih atau sindrom overtraining dapat mengurangi kapasitas otak untuk membuat keputusan.

Sindrom Overtraining adalah bentuk kelelahan tingkat tinggi pada atlet. Ini terjadi sebagai akibat dari pelatihan fisik intensif yang berlebihan. Para peneliti cukup yakin bahwa bentuk kelelahan ini melibatkan beberapa saraf yang sama dengan kelelahan akibat kerja intelektual secara intensif.

Seperti dilansir Medical News Today, Senin (7/10), untuk sampai pada simpulan di atas, para peneliti telah menguji apakah sindrom overtraining muncul sebagian dari kelelahan saraf di otak, serta dari kelelahan otot. Peneliti juga meneliti apakah pelatihan yang berlebih akan memengaruhi kinerja otak.

Untuk menguji hal tersebut, peneliti merekrut 37 atlet pria dengan usia rata-rata 35 tahun. Para peserta melanjutkan dengan rejimen latihan rutin mereka atau meningkatkan pelatihan mereka sebesar 40 persen per sesi selama tiga minggu.

Selama itu peneliti terus memantau kinerja fisik para atlet. Para atlet juga mengisi kuesioner yang menanyakan pengalaman subjektif mereka tentang kelelahan. Terakhir, para peneliti menggunakan tes perilaku dan scan MRI untuk menilai kemampuan kognitif para peserta.

Penelitian yang diterbitkan dalam Current Biology itu menunjukkan bahwa lebih dari tiga minggu, latihan fisik yang berlebihan menyebabkan para atlet merasa lebih lelah dan juga berperilaku berbeda. Dalam tes yang mengevaluasi pilihan ekonomi, atlet yang lelah lebih cenderung untuk bertindak impulsif.

Pemindaian MRI juga menunjukkan bahwa kelebihan fisik pada atlet mengakibatkan gangguan aktivasi korteks prefrontal lateral. Area otak ini bertanggung jawab untuk kontrol kognitif tingkat tinggi yanh mempengaruhi pengambilan keputusan, perencanaan, penghambatan perilaku, dan operasi motivasi, di antara perilaku lainnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA