Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Solok Minta Ditjen Perkebunan Datangkan Program Terintegrasi

Senin 07 Oct 2019 09:15 WIB

Red: Muhammad Hafil

Buah kakao asal Sumatra Barat yang dipamerkan pada Hari Kakao Indonesia 2019 di Kabupaten Solok,Sumatra Barat, Sabtu (12/10).

Buah kakao asal Sumatra Barat yang dipamerkan pada Hari Kakao Indonesia 2019 di Kabupaten Solok,Sumatra Barat, Sabtu (12/10).

Foto: Dok Republika
Solok memiliki tiga komoditas perkebunan utama.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLOK -- Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian diharapkan membantu petani di Kabupaten Solok. Terutama, untuk mengembangkan tiga komoditas perkebunan unggulan yaitu kakao, kopi arabika dan teh organik sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.

"Saya mohon Dirjen Perkebunan dapat membawa programnya yang mengintegrasikan perkebunan dengan peternakan, sehingga selain meningkatkan produksi perkebunan juga menambah penghasilan petani dari peternakan," kata Bupati Solok Gusmal saat memberi samhutan saat Peringatan Hari Kakao Nasional 2019 di Solok, Sabtu (5/10).

Gusmal juga meminta selain bantuan program untuk meningkatkan produksi kakao, kopi arabika dan teh organik, Ditjen Perkebunan bisa memberikan pemahaman dan penyuluhan pengintegrasian tanaman perkebunan dan peternakan ke kelompok tani daerah setempat. Menurut Gusmal, Pemerintah daerah telah berusaha mengembangkan kebun kakao dan kopi arabika di Solok.

Apalagi, permintaan kopi arabika cukup tinggi dan tidak terpenuhi karena kurangnya SDM yang mengerti tentang kopi dan luas perkebunan masih terbatas.

Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono mengatakan dulu produk pertanian dan perkebunan tersebar di seluruh Indonesia, tidak terletak pada daerah khusus. Sehingga produsen yang memerlukan hasil perkebunan kesulitan memperoleh pasokan.

"Sekarang kami membangun secara efisien dan terkelompok kawasannya (cluster) sehingga beberapa tanaman perkebunan dan pertanian difokuskan di suatu daerah sehingga mudah untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya," ujarnya.

Kasdi  menyebutkan 70 persen perkebunan di Indonesia milik rakyat. Kalau pekebun rakyat harus didukung dengan sarana, prasarana dan teknologi agar lebih berkembang maju.

"Kami akan berusaha membantu pekebun kakao, khususnya di Kabupaten Solok. Apalagi Kakao pasar ekspornya besar. Tapi kalau produksi dan pengolahan tidak meningkat tentu tidak akan berkembang," ujarnya.

Pihaknya menilai salah satu upaya meningkatkan produksi tanaman perkebunan termasuk Kakao dengan menyediakan logistik benih atau bibit mandiri."Artinya, daerah tidak perlu membeli atau mencari bibit ke daerah lain. Tapi membuat dan menyediakan bibit sendiri sehingga mempermudah petani dan mengurangi biaya produksi," ujarnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA