Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Luruhnya Kepercayaan pada Pangeran Muhammad bin Salman

Jumat 04 Oct 2019 10:23 WIB

Red: Budi Raharjo

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz (kiri) bersama putranya Muhammad bin Salman.

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz (kiri) bersama putranya Muhammad bin Salman.

Foto: AP/Hassan Ammar
Beberapa orang elite bisnis Saudi tak percaya pada Pangeran Muhamman bin Salman.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Kamran Dikarma

RIYADH -- Beberapa anggota kerajaan dan elite bisnis Arab Saudi dilaporkan mengeluhkan kebijakan Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Hal itu muncul sejak fasilitas minyak Saudi Aramco diserang pada 14 September lalu.

Serangan terhadap Aramco telah memicu kekhawatiran sejumlah kalangan terkemuka dari keluarga al-Saud. Mereka mempertanyakan kemampuan Pangeran MBS dalam mempertahankan dan memimpin negara eksportir minyak terbesar di dunia tersebut.

Serangan terhadap Aramco juga memicu ketidakpuasan di antara beberapa kalangan elite bisnis Saudi yang memiliki koneksi ke kerajaan. Mereka berpendapat Pangeran MBS telah mengejar sikap terlalu agresif terhadap Iran.

"Ada banyak kebencian (tentang kepemimpinan Pangeran MBS). Bagaimana mereka tidak dapat mendeteksi serangan itu (Aramco)?" ujar seorang elite bisnis Saudi yang enggan dipublikasikan identitasnya, dikutip laman Aljazirah.

Menurut dia, ada beberapa orang di kalangan elite bisnis Saudi yang tak percaya pada Pangeran MBS. Menurut Aljazirah, hal itu dikonfirmasi empat sumber lainnya dan seorang diplomat senior asing.

Menurut seorang pengusaha terkemuka Saudi, beberapa bangsawan telah memandang Pangeran Ahmed bin Abdulaziz al-Saud (77 tahun), satu-satunya saudara Raja Salman yang masih hidup, sebagai alternatif yang mungkin memperoleh dukungan untuk memimpin dari anggota keluarga al-Saud, aparat keamanan, dan beberapa kekuatan Barat.

"Mereka semua memandang Ahmed untuk melihat apa yang dia lakukan. Keluarga itu terus berpikir dia merupakan satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka," kata pengusaha tersebut.

Pangeran Ahmed merupakan satu dari tiga anggota keluarga al-Saud yang duduk di Dewan Syuro. Menurut dua sumber di lingkaran kerajaan, para anggota Dewan Syuro menentang penobatan Pangeran MBS menjadi putra mahkota pada 2017.

Namun, belum ada bukti kuat bahwa Pangeran Ahmed bersedia memainkan peran itu. Dia pun belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar terkait isu ini.

Kendati demikian, seorang sumber yang loyal pada Pangeran MBS menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Aramco tak memengaruhi posisi Putra Mahkota sebagai penguasa potensial. "Karena dia (Pangeran MBS) berusaha menghentikan ekspansi Iran di kawasan. Ini adalah masalah patriotik dan karena itu dia menang. Jadi, dia tidak akan dalam bahaya, setidaknya selama ayahnya (Raja Salman) masih hidup," ujar dia.

Peneliti senior dari di Chatam House, sebuah lembaga think tank yang berbasis di London, Inggris, Neil Quilliam, menilai serangan terhadap Aramco memang cukup mengguncang Saudi, termasuk Pangeran MBS. Pasalnya, sang Pangeran juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Saudi.

"Ada kepercayaan yang makin menurun pada kemampuannya untuk mengamankan negara. Itu adalah konsekuensi dari kebijakannya," kata Quilliam.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CBS pada program “60 Minutes” yang ditayangkan Ahad lalu, Pangeran MBS menyatakan enggan menempuh opsi militer untuk menghadapi Iran. Pernyataannya berkaitan dengan dugaan bahwa Iran sebagai dalang serangan terhadap fasilitas minyak Aramco pada 14 September lalu.

Saudi dan sejumlah negara lain tak menerima klaim Houthi yang mengaku sebagai penyerang Aramco. “Solusi politik dan damai jauh lebih baik daripada solusi militer,” kata dia.

Pangeran MBS juga mengaku menyambut pengumuman gencatan senjata oleh Houthi beberapa hari lalu. Ia menilai hal itu merupakan langkah positif untuk menuju dialog politik di Yaman.

“Hari ini kami membuka inisiatif untuk semua solusi politik di Yaman. Kami berharap ini terjadi hari ini daripada esok,” kata dia. n reuters ed: yeyen rostiyani

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA