Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Bahaya Orang Munafik dan Ancamannya di Neraka

Rabu 02 Oct 2019 14:00 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Sejumlah jamaah berjalan di area masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Jumlah jamaah di dua kota suci (Haramain) pada bulan ramadhan meningkat .

Sejumlah jamaah berjalan di area masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Jumlah jamaah di dua kota suci (Haramain) pada bulan ramadhan meningkat .

Foto: Hamad I Mohammed/Reuters
Dalam sejarah orang munafik dianggap musuh dalam selimut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –Keberadaan orang munafik dipandang dapat berbahaya, baik itu bagi agama, dan masyarakat. 

Pakar Alquran Indonesia yang juga mantan rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Dr KH Ahsin Sakho Muhammad, mengatakan nifaq dipandang sangat berbahaya lantaran seperti musuh di dalam selimut. 

Pasalnya, orang munafik seperti ini masuk dalam komunitas Muslim dan mengetahui seluk beluk tentang ajaran Islam. Bahkan, orang munafik tersebut menjadikan Islam sebagai bahan olok-olok.

Baca Juga

Di dalam Alquran, Allah menyatakan bahwa orang munafik seperti ini akan ditempatkan di tingkat paling rendah di neraka. Sebagaimana dinyatakan dalam suraa at-Taubah ayat ke-67, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu mereka adalah orang-orang yang fasik."

Kemudian dalam surah an-Nisaa ayat ke-145 dinyatakan, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka."

Dikatakannya, bahwa keberadaan orang munafik sangat berbahaya baik bagi pribadi, keluarga, agama, dan masyarakat. Bahkan, menurutnya, keberadaan orang munafik bisa menimbulkan perpecahan lantaran berita bohong atau hoaks yang disebarkannya.

"Dalam Alquran Allah memunculkan kelompok manusia yang munafik seperti bunglon," kata Kiai Ahsin, saat dihubungi Republika.co.id.

Akan tetapi, Ustaz Ahsin mengingatkan untuk tidak menuduh seseorang sebagai munafik. Walaupun orang tersebut kerap berbohong, namun tidak boleh mengumbar kemunafikan seseorang. Sebab, menurutnya, setiap orang memiliki martabat dalam diri mereka. "Sebaiknya tidak usah mengumbar kemunafikan seseorang. Jangan sampai martabat seseorang merasa dijatuhkan," katanya.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA