Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

'Alih Wahana' Perluas Literasi di Dunia Digital

Senin 30 Sep 2019 14:12 WIB

Rep: MGROL Arrin/ Red: Nora Azizah

Acara diskusi Komunitas Lewat Jam Tiga di Jakarta

Acara diskusi Komunitas Lewat Jam Tiga di Jakarta

Foto: MGROL Arrin/Republika
'Alih Wahana' menandakan kebudayaan tidak memadat dalam suatu kaidah tertentu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kecanggihan teknologi yang terus meningkat membuka berbagai cara untuk bisa mengakses tulisan. Tidak heran ketika melihat literasi Indonesia dapat dinikmati lewat banyak macam platform dan media.

Inilah yang tengah dikedepankan Komunitas Lewat Jam Tiga. Mengadopsi istilah 'Alih Wahana' komunitas ini mencoba memperluas ruang literasi, khususnya di dunia digital.

Baca Juga

'Alih Wahana' juga merupakan buku karangan sastrawan ternama Sapardi Djoko Damono. Menurutnya, Alih Wahana bukan hanya terjadi buku menjadi film, lagu yang terinsiprasi dari puisi, ataupun kartun menjadi sebuah karakter animasi. Alih wahana terjadi sebagai wujud dari pergerakan budaya yang dinamis, menandakan bahwa kebudayaan tidak pernah berdiam atau memadat dalam suatu kaidah tertentu.

“Mungkin saya adalah orang yang paling baik, biasanya jika ada yang memakai karya saya dalam bentuk apapun, saya biarkan saja. Tidak saya minta dia untuk bayar. Tapi beda untuk film, sebuah proyek ratusan juta itu harus jelas pembagiannya,” ujar Sapardi, belum lama ini di Jakarta.

Sebelumnya, novel Sapardi berjudul “Hujan Bulan Juni” sudah 'dialihwahanakan' sejak 2017 lalu ke dalam bentuk film. Berkomentar tentang film, beliau juga berkaca dari pemrosesan karyanya. Ia berpendapat tentang perlunya keikhlasan dari penulis yang karyanya dijadikan rujukan ide cerita sebuah film.

Menurutnya, hal ini bukan sepenuhnya hak penulis, mengingat karya film juga akan menjadi karya baru seusai terbentuknya nanti. Oleh karena itu, ia selalu memberikan kebebasan kepada produser film untuk berkarya tanpa harus menimbang pendapat apapun darinya.

Hal sedikit berbeda diutarakan oleh Lucia Priandarini yang merupakan penulis dari novel posesif dan dua garis biru. Ia menceritakan tentang beberapa kemungkinan karena penulis menolak karyanya dialihwahanakan.

“Ada yang khawatir film nya tidak sesuai harapan dan nanti pesan yang disampaikan tidak tersampaikan, hingga mengubah interprestasi cerita,” ungkap wanita lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.

Lucia juga berbagi seputar pengalamannya dalam konversi literasi ini. Misalnya, untuk cerita Dunia Ara yang menjadi pengembangan ide untuk film Keluarga Cemara, ia mengakui dibutuhkannya perjuangan berat menyusupi pikiran anak-anak agar bisa menciptakan cerita yang orisinal dan relevan dengan kehidupan anak.

Lain kasus yang terjadi pada Dua Garis Biru, ia menjelaskan tentang pentingnya penjagaan tokoh pada setiap karakter di film tersebut. Untuk menjaga kesinambungan cerita, ia harus memperhatikan eksistensi tokoh dengan maksud menyampaikan pesan yang hendak disampaikan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA