Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Pentolan Munafik di Madinah dan Bagaimana Rasul SAW Bersikap

Senin 30 Sep 2019 12:38 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Sejumlah jamaah berjalan di area masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Jumlah jamaah di dua kota suci (Haramain) pada bulan ramadhan meningkat .

Sejumlah jamaah berjalan di area masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Jumlah jamaah di dua kota suci (Haramain) pada bulan ramadhan meningkat .

Foto: Hamad I Mohammed/Reuters
Meski memusuhi umat Islam, Rasulullah tak memerangi munafik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Orang munafik memang tampak seperti orang yang beriman kepada Allah, namun di hatinya memiliki penolakan terhadap ajaran-Nya. 

Di masa Rasulullah SAW juga tidak luput dari orang-orang yang munafik yang berada di sekeliling Rasulullah. Salah satunya, adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. 

Baca Juga

Pemuka kaum Anshar ini berupaya menghasut kaumnya untuk tidak menyokong kaum Muhajirin tinggal di Madinah hingga mereka berpisah dari Nabi Muhammad SAW. Kebencian Abdullah bin Ubay terhadap Rasulullah itu didasarkan karena penduduk di Madinah hendak menjadikan Abdullah bin Ubay sebagai raja dan memakaikannya jubah raja. Hingga akhirnya Nabi Muhammad SAW datang, Abdullah bin Ubay memandang kedatangan Rasulullah telah merampas haknya sebagai raja.

Seperti dikutip dari buku "Tafsir fi Zhilal al-Qur'an (Di Bawah Naungan Alquran), karya Sayyid Quthb, surah al-Munaafiquun ayat 5-8 menurut sejumlah ulama salaf diturunkan Allah untuk menyinggung Abdullah bin Ubay.

Ibnu Ishaq memperinci berkaitan dengan Perang Bani Musthaliq pada tahun keenam Hijriyah di Muraisik, yaitu tempat sumber air bagi mereka. 

Setelah perang usai, saat Rasulullah berada di tempat air itu, orang-orang berbondong-bondong mengambil air di sana. Saat itu, Umar ibnul Khaththab menyewa seseorang dari Bani Ghaffar bernama Jahjah bin Mas'ud yang bertugas menuntun kudanya. 

Namun saat mengambil air, antara Jahjah dan Sinan bin Wabar al-Juhani berdesak-desakkan. Al-Juhani adalah kaum yang menjadi sekutu dari kaum Aus bin Khajraj. Mereka berdua berebutan air hingga berkelahi. 

Al-Juhani lantas berteriak "Wahai orang-orang Anshar." Dan Jahjah juga berteriak, "Wahai orang-orang Muhajirin."

Abdullah bin Ubay yang bersama beberapa orang dari kaumnya lantas marah dan berkata, "Apakah mereka (Muhajirin) telah bersikap demikian? Apakah mereka telah berlepas dari kita dan merasa lebih banyak dari kita di negeri kita sendiri? Demi Allah, kita tidak membekali diri kita dan Jalabib Quraisy melainkan sebagaimana dikatakan orang-orang yang terdahulu, 'Gemukkanlah anjingmu, maka dia pasti memakanmu'. Oleh karena itu, demi Allah, bila kita telah kembali pulang ke Madinah, maka benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya."

Kemudian Abdullah bin Ubay berkata kepada orang-orang Anshar di sekitarnya, "Inilah yang telah kalian perbuat terhadap diri kalian. Kalian menyediakan negeri kalian untuk mereka. Kalian bagikan kepada mereka harta benda kalian. Demi Allah, sekiranya kalian tidak memberikan fasilitas dan bantuan kalian kepada mereka, maka mereka pasti akan beralih ke negeri lain bukan ke negeri kalian."

Zaid bin Arqam, seorang anak kecil di sisinya, yang mendengarnya lantas menuju Rasulullah SAW dan memberitahukan hal itu. Umar yang berada di samping Rasulullah SAW merasa geram dan meminta agar Abdullah bin Ubay dibunuh. 

Namun, Rasulullah mencegahnya dan justru meminta semua pasukan bertolak pulang. Walaupun saat itu, Rasulullah SAW belum ingin beranjak pulang.

Abdullah bin Ubay lantas selalu berjalan bersama Rasulullah saat dia menerima kabar bahwa Zaid bin Arqam telah menyampaikan kabar yang didengarkan darinya. Abdullah bin Ubay bahkan bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak pernah mengatakan hal itu dan tidak pernah berbicara seperti itu.

Abdullah bin Ubay termasuk orang yang dihormati dan ditinggikan dalam kaumnya. Karenanya, orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, mungkin anak kecil itu (Zaid bin Arqam) telah salah dalam menyampaikan beritanya dan tidak menyimpan dengan baik perkataan dari orang ini (Abdullah bin Ubay)." Mereka berkata itu sebagai rasa hormat kepada Abdullah bin Ubay dan sebagai pembelaan baginya.

Berita itu juga sampai kepada Abdullah, anak dari Abdullah bin Ubay. Ibnu Ishaq diberitakan hadis oleh Ashim bin Umar bin Qatadah, bahwa Abdullah datang kepada Rasulullah dan merasa geram dengan perbuatan sang ayah. 

Dia meminta agar dirinya yang ditugaskan untuk membunuh sang ayah, sebab dia takut merasa marah jika melihat orang lain yang membunuh ayahnya. Sehingga, Abdullah takut bisa masuk neraka jika dia membunuh orang mukmin lainnya.

Namun, Rasulullah lagi-lagi menolaknya. Rasulullah bersabda, "Bahkan kami akan bersikap lemah lembut padanya dan berlaku baik kepadanya dalam bergaul selama dia masih hidup berdampingan dengan kita." Setelah kejadian itu, kaumnya sendirilah yang mencerca Abdullah bin Ubay. 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA