Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Krisis Yaman, Pengendara Antre BBM Hingga Berhari-hari

Senin 30 Sep 2019 06:34 WIB

Red: Ani Nursalikah

Kehidupan sehari-hari di Yaman. Sejumlah mobil melintas di kota tua Sanaa, Yaman, Sabtu (28/9). Konflik yang terus berlangsung menewaskan puluhan ribu orang dan memicu krisis kemanusiaan di Yaman.

Kehidupan sehari-hari di Yaman. Sejumlah mobil melintas di kota tua Sanaa, Yaman, Sabtu (28/9). Konflik yang terus berlangsung menewaskan puluhan ribu orang dan memicu krisis kemanusiaan di Yaman.

Foto: AP Photo/Hani Mohammed
Kekurangan bahan bakar menimbulkan dampak yang jauh lebih dalam.

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Kekurangan bahan bakar membuat krisis kemanusiaan di Yaman makin dalam. Para pengendara mengantre selama berhari-hari untuk mendapatkan bahan bakar yang dijual di tempat-tempat pengisian bahan bakar.

Kekurangan bahan bakar itu hanya salah satu dari banyak masalah yang menyebabkan penderitaan dalam perang saudara antara gerakan Al-Houthi yang bersekutu dengan Iran dan koalisi pimpinan Saudi yang didukung Barat. Tetapi kekurangan bahan bakar menimbulkan dampak yang jauh lebih dalam.

Bahan bakar diperlukan tidak hanya untuk mobil-mobil tetapi juga untuk pompa-pompa air, generator rumah sakit, dan mengangkut barang-barang di sebuah negara tempat jutaan warganya berada di tepi jurang kelaparan. "Kami dan rakyat Yaman merasakan dampak dari kekurangan bahan bakar," ujar Nashwan Khaled, yang sudah mengantre selama dua hari untuk mendapatkan bensin di Sanaa, Ibu Kota Yaman.

Baca Juga

Al-Houthi mengendalikan Sanaa. Di kota ini banyak stasiun pengisian bahan bakar terpaksa tutup.

Ia mengatakan dampak dari kekurangan bahan bakar membuat pekerjaannya terganggu. Bensin di pasar gelap dijual hampir tiga kali dari harga resmi. Para pengemudi mengantre untuk memperoleh bahan bakar selama dua atau tiga hari.

"Kekurangan bahan bakar di Yaman memperparah situasi kemanusiaan di negara itu yang sudah mengkhawatirkan dan mengarah kepada level penderitaan yang tak dapat diterima," kata seorang wakil organisasi kemanusiaan Dewan Pengungsi Norwegia Sultana Begum.

Impor ke kawasan-kawasan yang dikuasai Al-Houthi harus melalui pengawasan ketat oleh koalisi militer pimpinan Saudi yang campur tangan di Yaman pada 2015 untuk memulihkan Pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Pasokan dapat tertahan di pelabuhan-pelabuhan dan perbatasan garis depan karena birokrasi di kedua pihak.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA