Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Mengenal Gerakan Pejuang Subuh

Ahad 29 Sep 2019 23:23 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko

Anggota Pejuang Subuh Nongsa Batam berpose di masjid di sela acara sahur bersama dan iktikaf.

Anggota Pejuang Subuh Nongsa Batam berpose di masjid di sela acara sahur bersama dan iktikaf.

Foto: Pejuang Subuh Nongsa
Gerakan ini berjalan dengan massif hingga ke daerah-daerah pelosok negeri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gerakan Pejuang Subuh lahir pada saat ghiroh keislaman anak-anak muda Indonesia sedang bergejolak pada 2012. Dengan dibantu kemajuan teknologi, akhirnya gerakan ini mampu mendorong para pemuda Muslim untuk shalat Subuh berjamaah di masjid.

Gerakan subuh berjamaah sampai saat ini terus berlangsung di beberapa tempat dan melibatkan ratusan ribu pemuda dari berbagai kalangan. Mereka tergerak hatinya untuk melaksanakan shalat subuh yang dilaksanakan sebelum matahari terbit.

Gerakan ini berjalan dengan massif hingga ke daerah-daerah pelosok negeri dan sekarang Pejuang Subuh sudah berbadan hukum dengan nama Yayasan Pejuang Subuh Indonesia. Yayasan ini sekarang bersekretariat di Jalan BDN Raya 10C Cipete Selatan, Jakarta Selatan.

Inisiator sekaligus Dewan Syuro Pejuang Subuh Arisakti Prihatwono mengatakan, gerakan subuh berjamaah di masjid ini sangat penting karena bisa membangkitkan umat Islam. Cukup dengan shalat subuh berjamaah di masjid setiap hari dan melakukan aktivitas lainnya itu sudah merupakan tanda kebangkitan umat dan kejayaan umat.

Makanya, ini menjadi penting bagi anak-anak muda khususnya, ujar pria yang akrab dipanggil Rico ini. Berikut wawancara lengkap wartawan Republika, Muhyiddin, bersama Arisakti Prihatwono saat ditemui di kediamannya, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (25/9):

Bisa diceritakan bagaimana awal Anda menginisiasi gerakan Subuh berjamaah ini?

Jadi, gerakan Subuh itu muncul dari sebuah pemikiran dan kegelisahan. Waktu itu ada namanya Mas Didot yang seorang mualaf dan satu lagi Mas Ilman. Mereka dulu penggiat hiburan malam yang selalu pulang pada waktu Subuh. Akhirnya mereka merasa cukuplah untuk melakukan hal seperti itu.

Kemudian, mereka selalu melihat di waktu Subuh itu masjid sepi anak muda, yang banyak adalah orang tua. Dan, akhirnya mereka mengajak saya untuk barengbareng membuat Pejuang Subuh pada September 2012 atau pada Bulan Ramadhan tahun 2012. Setelah itu, kita kemudian mulai mengetwit di Twitter untuk dakwah. Jadi, saat itu kita membuat akun Twitter yang namanya @pejuangsubuh.

Alhamdulillah kita termasuk generasi awal untuk dakwah melalui sosial media. Dan, alhamadulillah ternyata itu mendapat kan sambutan yang hangat dari temanteman seluruh Indonesia. Jadi, karena kita dakwah melalui sosial media, kita bisa mengajak mereka untuk shalat Subuh. Di Pejuang Subuh kita dulu juga punya tantangan. Jadi di Twitter itu kalau ada da ri teman-teman selama 40 hari tidak terputus shalat subuh di masjid nanti akan kita follow. Karena di-follow oleh Pejuang Subuh zaman dulu itu merupakan suatu kebanggaan.

Sosial media itu kan orang banyak aktif di malam hari, sore hari setelah semua orang kerja, pagi sebelum orang-orang kerja, dan siang setelah makan siang. Na mun, kita punya peak season sendiri, yaitu jam setengah empat sampai jam setengah lima. Jadi, waktu-waktu itu ramai banget cuitcuit di Twitter tentang orang-orang yang mencuit sudah melaksanakan shalat Subuh.

Ahamdulillah setelah berjalan, akhirnya teman-teman yang dari Bandung punya chapter atau cabang sendiri. Selain itu, kita juga punya kajian sendiri pertama kali ber sama Ustaz Bachtiar Natsir di AQL dengan mengundang beberapa ustaz dan mulailah kemudian kita menggaungkan shalat subuh.

Pejuang Subuh ini punya visi, yaitu shalat Subuh seramai shalat Jumat. Karena itu, tantangan kita adalah untuk bisa disebut Pejuang Subuh sejati atau mujahid subuh sejati itu adalah dia bisa shalat Subuh selama 40 hari tidak putus di masjid. Dan, itu tidak gampang. Rata-rata orang butuh tiga tahun karena baru berapa hari sudah putus.

Kenapa harus 40 hari?

Karena itu, adalah tolok ukur dari sebuah keistiqamahan. Jadi, kalau dia sudah bisa 40 hari insyaAllah selanjutnya sudah tidak perlu banyak dibimbing lagi. Sampai sekarang kita sudah membuat lima kali silaturahim nasional dengan mengundang para ustaz. Dan, alhamdulillah sekarang Pejuang Subuh sudah ada 50 lebih chapter di kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Memang kita berjalan per lahan, tapi kita sudah mampu menginisiasi dan menyemengati anak-anak muda lewat gerakan-gerakan Subuh yang berbasis online.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA