Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Kesadaran Masyarakat akan Kesehatan Paru Masih Minim

Jumat 27 Sep 2019 06:50 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Menyambangi taman kota yang minim polusi bisa menjadi cara menjaga kesehatan paru.

Menyambangi taman kota yang minim polusi bisa menjadi cara menjaga kesehatan paru.

Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Penyakit paru berkontribusi besar ke angka kesakitan dan kematian dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit paru dan respirasi menjadi masalah kesehatan dunia yang sangat serius. Sayangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan paru masih kurang.

"Mereka masih belum mengikuti anjuran dokter untuk menggunakan masker saat terjadi polusi udara maupun kebakaran hutan. Selain itu, mereka mengunjungi dokter paru ketika sudah ada masalah di parunya. Namun mereka tidak berobat secara teratur setelah itu," ungkap Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr dr Agus Dwi Susanto SpP(K), FAPSR disela acara konferensi pers Peringatan Hari Paru Sedunia (World Lung Day) dengan tema “Paru Sehat untuk Semua” di Jakarta, Kamis (26/8).

Dokter Agus mengatakan penyakit paru memberikan kontribusi sangat besar terhadap angka kesakitan dan kematian masyarakat seluruh dunia. Lima penyakit paru yang masuk terbanyak yaitu pneumonia, tuberkulosis, PPOK, kanker paru dan asma.

"Kami berharap masyarakat memberikan perhatian terhadap penyakit tersebut. Supaya bisa dideteksi, dikenali dan dicegah," ujarnya.

Dokter spesialis paru dari PDPI, Dr Andika Chandra Putra, PhD, SpP(K) menjelaskan fakta mengenai penyakit paru dan respirasi sangat mengejutkan yaitu 384 juta orang menderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Sebanyak tiga juta orang meninggal dunia setiap tahunnya karena PPOK, menjadikan PPOK penyebab kematian utama ketiga di dunia.

Data lain menyebutkan bahwa 10 juta orang menderita tuberkulosis (TB) dan 1,6 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya karena TB. Data membuat TB penyakit menular mematikan yang paling sering diderita.

Selain itu, data mengenai masalah baru menunjukkan 1,76 juta orang meninggal dunia karena kanker paru setiap tahu, menjadikan kanker paru adalah kanker yang paling mematikan.

Data lainnya mengatakan 334 juta orang menderita asma, menjadikan asma penyakit kronik yang paling sering terjadi pada masa anak-anak. 14 persen jumlah anak di dunia terkena asma dan angkanya terus meningkat. Sedangkan pneumonia membunuh jutaan orang setiap tahun sehingga menjadi penyebab utama pada bayi dan orang tua.

Hari paru sedunia pada 25 September 2019 ditetapkan 2 hari setelah pertemuan tingkat tinggi PBB mengenai cakupan kesehatan universal. Cakupan kesehatan universal menyerukan kepada semua orang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan disaat mereka membutuhkannya tanpa memikirkan kesulitan keuangan. Saat ini sekurangnya setengah populasi dunia masih belum memiliki cakupan penuh pelayanan kesehatan dasar.

Sorotan dunia pada cakupan kesehatan universal merupakan peluang untuk perkembangan yang penting dalam melawan penyakit paru di seluruh dunia. Pada hari paru sedunia tahun ini mereka bersatu dalam pesan.

“Kami berharap hari paru sedunia dapat memberikan kesempatan untuk bertindak, berbicara dan menyadarkan. Suara yang bersatu dari semua pihak diseluruh dunia termasuk Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) yang mendedikasikan untuk kesehatan paru dan respirasi akan menjadi kekuatan yang kuat.”


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA