Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Percakapan Trump dan Presiden Ukraina Guncang AS

Kamis 26 Sep 2019 09:44 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy (kiri) bertemua dengan Presiden AS Donald Trump di Hotel InterContinental Barclay New York di sela Sidang Umum PBB di New York, AS, Rabu (25/9)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy (kiri) bertemua dengan Presiden AS Donald Trump di Hotel InterContinental Barclay New York di sela Sidang Umum PBB di New York, AS, Rabu (25/9)

Foto: AP Photo/Evan Vucci
Percakapan dengan Presiden Ukraina membuat Trump diselidiki untuk pemakzulan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Berdasarkan catatan percakapan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy terungkap bahwa Trump menekan Zelenskiy untuk berkoordinasi dengan Jaksa Agung AS dan pengacara pribadinya menyelidiki mantan wakil presiden Joe Biden.

Rincian percakapan 25 Juli itu memicu reaksi keras Partai Demokrat. Mereka menuduh Trump mengajak Ukraina untuk membantunya mencoreng nama mantan wakil presiden Joe Biden, calon kandidat partai Demokrat yang bersaing dengan Trump dalam pemilihan presiden 2020. Sambungan telepon itu dilakukan setelah Trump memerintahkan pembekuan bantuan senilai 400 juta dolar AS ke Ukraina. Bantuan yang akhirnya diberikan setelah Trump menelepon Zelenskiy.

"Apa yang ada dalam catatan mencerminkan pemerasan seperti mafia terhadap pemimpin asing," kata ketua Komite Intelijen House of Representative Adam Schiff yang berasal dari Partai Demokrat, Kamis (26/9).

Baca Juga

Sebelum dirilis ke publik, percakapan itu memicu Ketua House Nancy Pelosi meluncurkan penyelidikan pemakzulan terhadap Trump. Partai Republik mengatakan catatan tersebut menunjukkan Partai Demokrat telah mengambil langkah yang salah untuk melakukan pemakzulan.

"Tidak ada quid pro quo dan tidak ada yang dapat membenarkan keributan yang disebabkan Partai Demokrat di House," kata petinggi Partai Republik di Komite Kehakiman House Doug Collins.

Trump dan Zelenskiy tampil berdampingan dalam pertemuan sela Sidang Umum PBB. Mereka membantah percakapan itu melanggar aturan. "Tidak ada yang memaksa saya," kata Zelenskiy.

Dalam konferensi pers, penutupan Sidang Umum PBB di New York, Trump mengatakan Partai Demokrat meluncurkan penyelidikan pemakzulan 'karena mereka tidak dapat mengalahkan kami di kotak suara'. Dalam pernyataannya, Biden mengatakan Trump telah menempatkan politik pribadinya di atas sumpah jabatan. Maka karena itu Kongres harus meminta pertanggungjawabnya atas 'penyelewengan kekuasaan'.

Kontroversi percakapan telepon tersebut muncul setelah ada pembocor rahasia atau whistleblower dari komunitas intelijen AS. Pembocor itu mengeluh tentang percakapan antara Trump dengan Zelenskiy.

Anggota Komite Intelijen House dan Senat diizinkan untuk mengajukan keluhan itu. Satu hari setelah pelaksana tugas direktur intelijen nasional Joseph Maguire bersaksi di sidang panel intelijen House.

Anggota parlemen dari Partai Demokrat mengatakan tuduhan itu kredibel dan sangat mengganggu. Sementara para anggota Partai Republik menganggap remeh keluhan itu. Pemimpin Partai Demokrat di Senat Chuck Schumer meminta keluhan itu untuk dipublikasikan.

"Publik punya hak untuk membaca keluhan pembocor rahasia bagi diri mereka sendiri, isi dari keluhan itu harus segera dipublikasikan," kata Schumer dalam pernyataannya.  

Berdasarkan kesimpulan catatan percakapan itu Trump memberitahu Zelenskiy, Jaksa Agung AS William Barr, dan pengacara pribadinya Rudy Giuliani akan berbicara padanya. Mereka akan membahas tentang dibukanya kembali penyelidikan terhadap perusahaan energi tempat putra Biden yakni Hunter Biden bekerja.  

"Hal yang lain, ada pembicaraan tentang putra Biden, Biden menghentikan prosekusi dan banyak orang ingin mencari tahu tentang itu, jadi apa pun yang dapat kamu lakukan dengan jaksa agung akan sangat bagus," kata Trump. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA