Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

AS Terbitkan Visa Bagi Rouhani untuk Pertemuan di New York

Jumat 20 Sep 2019 14:17 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden AS Donald Trump

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden AS Donald Trump

Foto: NBC News
Sebelumnya AS dilaporkan menunda penerbitan visa bagi pejabat Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) menerbitkan visa bagi Presiden Iran Hassan Rouhani dan Menteri Luar Negerinya Mohammad Javad Zarif untuk melakukan perjalanan ke New York dalam pertemuan tahunan para pemimpin dunia di PBB pekan depan. Hal itu dilakukan saat muncul laporan AS menunda menerbitkan visa bagi pejabat Iran karena adanya ketegangan hubungan setelah serangan fasilitas minyak Arab Saudi.

Juru bicara menteri luar negeri Iran mengatakan, bahwa Zarif akan berangkat ke New York pada Jumat. Sebelumhya, Zarif mengaku bahwa Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menunda pemberian visa untuk delegasi Iran ke Majelis Umum PBB yang akan datang.

"@SecPompeo mencoba menghindari kewajiban AS untuk menerbitkan visa bagi delegasi PBB dengan menggunakan penunjukan yang disombongkannya sendiri," cicit Zarif melalui Twitter resminya.

Baca Juga

Namun, Pompeo menolak berkomentar secara khusus tentang kasus ini. "Kami tidak berbicara tentang pemberian atau tidak adanya pemberian visa," kata Pompeo dilansir Aljazirah, Jumat (20/9).

Menurutnya, penundaan visa akan menjadi alasan untuk berpikir apakah mereka harus diizinkan untuk menghadiri pertemuan yang membahas perdamaian atau tidak. Sebagai tuan rumah, AS umumnya wajib mengeluarkan visa kepada diplomat yang bertugas di markas PBB.

Laporan penundaan visa muncul ketika AS dan Arab Saudi mempertimbangkan tanggapan terhadap serangan akhir pekan lalu pada fasilitas minyak Saudi. Teheran telah berulang kali membantah tuduhan sebagai dalang di balik serangan.

Zarif memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan berdampak pada perang. "Kami tidak ingin perang, kami tidak ingin terlibat dalam konfrontasi militer. Tapi kita tidak akan diam untuk mempertahankan wilayah kita," kata Zarif kepada CNN

Milisi Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, AS menuduh serangan itu melibatkan rudal jelajah dari Iran dan dianggap sebagai "tindakan perang".

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA