Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Pulau Penyengat Diusulkan Jadi Warisan Dunia UNESCO

Selasa 17 Sep 2019 01:18 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Peserta menunggu giliran tampil dalam lomba peragaan busana khas Melayu di rangkaian acara Festival Pulau Penyengat, Selasa (23/2). (Antara/Yudhi Mahatma)

Peserta menunggu giliran tampil dalam lomba peragaan busana khas Melayu di rangkaian acara Festival Pulau Penyengat, Selasa (23/2). (Antara/Yudhi Mahatma)

Pulau Penyengat memiliki sejumlah keunikan yang membuatnya layak jadi warisan dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG -- Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang akan diusulkan sebagai warisan dunia. Menurut salah seorang budayawan, Abdul Malik, wacana tersebut sudah disampaikan itu secara lisan dalam pertemuan dengan UNESCO di Bogor pada Juli 2019.

"UNESCO sangat tertarik dan memberi pujian," ujar Malik yang juga Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang di Tanjungpinang, Senin.

Malik menjelaskan Pulau Penyengat layak menjadi warisan dunia. Salah satu alasannya ialah fakta sejarah bahwa Sultan Mahmud Riayat Syah atau Mahmud Syah III, yang merupakan raja ke delapan sekaligus raja terakhir dari Kesultanan Melaka, mempersunting Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah (Raja Hamidah), sekitar tahun 1801 M, dengan mas kawin berupa Pulau Penyengat.

Di samping itu, menurut Malik, Pulau Penyengat merupakan pulau terkecil di dunia yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan, yakni oleh Kerajaan Riau, Lingga, Johor, dan Pahang. Pulau dengan panjang dua kilometer dan lebar 850 meter itu kala itu memiliki fasilitas pemerintahan yang lengkap.

Selain itu, Pulau Penyengat juga dijadikan sebagai pusat peradaban Melayu. Malik menjelaskan bahwa yang paling menarik, menurut UNESCO, Pulau Penyengat sebagai cikal bakal lahirnya Bahasa Indonesia, bahasa pemersatu.

"Sejarah membuktikan Bahasa Melayu dari pulau itu menyatukan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Bahkan sampai sekarang tiga negara tetangga kita itu masih menggunakan Bahasa Melayu," ujarnya.

Malik mengakui bahwa untuk menjadikan Pulau Penyengat sebagai warisan dunia bukan hal yang mudah. Namun, sinyal positif sudah diberikan UNESCO sehingga seharusnya setelah pertemuan di Bogor Juli 2019, ditindaklanjuti di daerah.

Menurut Malik, seluruh pihak yang terkait rencana itu di Kepri sebaiknya bersinergi, mengumpulkan data-data, termasuk aset budaya daerah, kemudian menyusunnya sebelum dilaporkan ke pemerintah pusat untuk diusulkan kepada UNESCO.

"Banyak daerah yang mengusulkan agar masuk warisan dunia, namun itu tidak mudah. Dalam setahun, UNESCO hanya menetapkan satu kawasan sebagai warisan dunia," tuturnya.

Malik mengatakan Pulau Penyengat sebagai warisan dunia bukan hanya prestise, melainkan memberi dampak positif lainnya, terutama pada sektor pendidikan dan pariwisata. Perlakuan pemerintah terhadap Pulau Penyengat pun semestinya berbeda-lebih istimewa setelah pulau itu ditetapkan sebagai warisan dunia.

"Kami ingin pulau ini berdiri megah sebagai kawasan sejarah yang kaya budaya melayu," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA