Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Wacana Taman Nasional Komodo Tutup, Menpar: Dampaknya Besar

Senin 09 Sep 2019 19:18 WIB

Red: Nora Azizah

Seekor komodo berada di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Ahad (14/10).

Seekor komodo berada di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Ahad (14/10).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Sejumlah agen perjalanan tidak berani menjual paket wisata kapal pesiar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut wacana penutupan Taman Nasional Komodo (TNK) yang sempat mengemuka pada tahun lalu telah membuat wisatawan bingung dan berdampak buruk bagi sektor pariwisata. Arief dalam sosialisasi manajemen krisis kepariwisataan di Jakarta, Senin (9/9), mengatakan, wacana penutupan TNK mengakibatkan agen perjalanan tidak berani menjual paket perjalanan kapal pesiar (cruise) ke destinasi tersebut.

"Ini (penutupan TNK) ramai, orang mau cruising dilarang ke sana, padahal mereka beli paket setahun sebelumnya. Kalau dibilang mau ditutup, mau enggak ditutup, lalu mau ditutup lagi, customer bingung. Padahal sekali masuk cruise bisa ribuan (wisman)," katanya.

Baca Juga

Arief pun menyesalkan ramainya pemberitaan soal wacana penutupan TNK. Ia menilai, wacana mengenai hal tersebut seharusnya tidak diungkapkan dalam ruang terbuka, terlebih dilakukan oleh pejabat publik.

"Ini bukan bencana tapi dampaknya lumayan besar," imbuhnya.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti menjelaskan, dalam masalah tersebut, hal utama yang disorot adalah kepastian dibuka atau ditutupnya kawasan TNK. Meski di sisi lain, industri pun memahami alasan ditutupnya TNK demi pelestarian komodo.

"Kalau tidak ada kepastian, industri ini bingung, ini mau membawa orang ke sana tutup atau tidak? Akibatnya goyah industri ini karena isunya tidak pasti," katanya, Senin.

Guntur menambahkan, ekosistem di industri pariwisata haruslah tenang, tidak gaduh. "Buat kami yang penting kepastian karena kalau tidak pasti industri resah, karena komodo menjadi daya tarik wisata tapi komodo juga perlu dilestarikan baik alam, hewan, dua-duanya kebijakannya bagus tapi kami butuh kepastian," katanya.

Meski tidak ada data rinci mengenai penurunan jumlah wisatawan, secara nasional sepanjang 2017 penurunan wisatawan mencapai sekitar satu juta kunjungan, pada 2018 turun hingga 1,2 juta kunjungan dan pada 2019 diperkirakan penurunan mencapai dua juta kunjungan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA