Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Pemimpin Hong Kong: Jika Ada Pilihan, Saya Ingin Berhenti

Selasa 03 Sep 2019 11:12 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam.

Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam.

Foto: AP Photo/Vincent Yu
Aksi demonstrasi besar mengguncang Hong Kong lagi selama akhir pekan.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengatakan, ia telah menyebabkan malapetaka yang tak termaafkan dengan memicu krisis politik. Menurut rekaman audio yang diperoleh oleh Reuters, dia mengatakan akan berhenti jika dia punya pilihan.

"Jika saya punya pilihan, hal pertama adalah berhenti setelah membuat permintaan maaf yang mendalam," kata dia, berbicara dalam bahasa Inggris, dilansir Aljazirah, Selasa (3/9).

Lam mengatakan pada pertemuan tertutup dengan pengusaha pada pekan lalu, ia memiliki ruang terbatas untuk menyelesaikan krisis. Ini karena kerusuhan telah menjadi masalah keamanan dan kedaulatan nasional bagi China.

Pada Juni, Hong Kong telah dikejutkan dengan demonstrasi massa dan terkadang protes keras dari para pengunjuk rasa. Aksi ini sebagai tanggapan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) ekstradisi yang diusulkan oleh pemerintahan Lam.

RUU tersebut akan memungkinkan orang yang melakukan kejahatan diekstradisi ke China. RUU tersebut telah ditangguhkan, tetapi Lam tidak dapat mengakhiri pergolakan.

Para pengunjuk rasa telah memperluas tuntutan mereka. Permintaan pengunjuk rasa mencakup penarikan lengkap RUU. Aksi demonstrasi besar mengguncang kota lagi selama akhir pekan.

Lam mengatakan, China belum memberlakukan batas waktu untuk mengakhiri krisis menjelang perayaan Hari Nasional yang dijadwalkan pada 1 Oktober. Ia mengatakan, China sama sekali tidak punya rencana mengerahkan pasukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di jalan-jalan Hong Kong.

Sementara itu, para pemimpin dunia telah mengamati dengan seksama apakah China akan mengirim militer untuk mengatasi protes. Ini seperti yang terjadi pada satu generasi yang lalu di Beijing, dalam penumpasan berdarah Tiananmen.

"Ruang politik untuk kepala eksekutif yang sayangnya, harus melayani dua tuan dengan konstitusi yaitu pemerintah rakyat pusat dan rakyat Hong Kong, bahwa ruang politik untuk bermanuver sangat, sangat, sangat terbatas," kata Lam.

Tiga orang yang menghadiri pertemuan itu mengonfirmasi Lam telah membuat komentar dalam pembicaraan, yang berlangsung sekitar setengah jam. Reuters memperoleh rekaman setidaknya 24 menit dari pembicaraan.

Pertemuan itu menjadi salah satu dari sejumlah sesi tertutup dialog. Menurut Lam, ini telah dilakukannya dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat di Hong Kong.

Menanggapi Reuters, juru bicara Lam mengatakan, dia menghadiri dua acara pekan lalu yang termasuk dengan orang-orang dari pengusaha, dan keduanya secara efektif bersifat pribadi. "Karena itu kami tidak dalam posisi untuk mengomentari apa yang dikatakan kepala eksekutif di acara-acara itu," kata juru bicara itu. Sementara Lam dijadwalkan berbicara kepada media pada Selasa pagi.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA