Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Pegolf Muda Tanah Air Buat Sejarah di BRI Indonesia Open

Senin 02 Sep 2019 03:10 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Pegolf muda Indonesia Naraajie Emerald Ramadhan Putra.

Pegolf muda Indonesia Naraajie Emerald Ramadhan Putra.

Foto: Dok. IO2019
Berusia 19 tahun dan berstatus pegolf amatir, Naraajie berhasil mencuri perhatian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pegolf muda Indonesia Naraajie Emerald Ramadhan Putra tampil mengesankan sepanjang turnamen BRI Indonesia Open 2019 di Pondok Indah Golf Course, dari Kamis (29/8) hingga Ahad (1/9). Sempat unggul enam par hingga awal putaran terakhir, pegolf amatir berusia 19 tahun ini harus rela disalip oleh Miguel Carballo yang keluar sebagai juara.

Publik Indonesia pun masih harus bersabar untuk melihat pegolf Tanah Air kedua yang memenangkan trofi kebanggaan pada ajang Bank BRI Indonesia Open ini. Naraajie harus kandas lantaran pada hari terakhir ia justru bermain dengan skor 78 atau 6 di atas par.

Pemuda asal Bandung, Jawa Barat ini sempat bermain par di hole pertamanya, tapi justru mendapat bogey di hole 2. Ia sempat bangkit dan menorehkan birdie di hole 4, tapi bogey di hole 9 mulai menggoyang posisinya. Ia akhirnya kehilangan posisi puncak klasemen setelah mencatatkan empat bogey secara berturut-turut dari hole 13.

photo
Naraajie Emerald Ramadhan Putra (kedua kiri) saat menerima trofi juara kategori amatir di BRI Indonesia Open 2019.
Ia mencatatkan birdie keduanya pada putaran final ini di hole 17, tapi terpaksa menutup perjuangannya dengan double bogey di hole 18. "Bisa dibilang saya kehilangan konsentrasi di hole 13. Biasanya di hole-hole 12, 13 itu saya mulai merasa lelah sehingga performa biasanya agak menurun. Akhirnya, saya drop dan kehilangan fokus di hole 13 itu. Saya berusaha keras untuk bermain lebih sabar dan kembali fokus ke hole demi hole, tapi ternyata sulit saya lakukan," tutur Naraajie.

Meskipun belum dapat mengikuti jejak Kasiadi dalam menjuarai ajang bergengsi ini tahun 1989 silam, Naraajie masih meyakini bahwa pengalamannya kali ini merupakan proses belajar yang sangat penting. "Secara keseluruhan hasil ini memang sudah bagus karena saya bisa finis di lima besar. Yang jelas pengalaman ini menjadi pelajaran bagi saya untuk menghadapi turnamen-turnamen amatir yang besar, seperti Asia-Pacific Amateur Championship atau SEA Games," jelasnya.

Gelar juara boleh menjadi milik Carballo, namun Naraajie sendiri pada dasarnya telah menciptakan sejarah yang patut dibanggakan oleh segenap publik golf di Indonesia. Sejak 1974, Naraajie menjadi pegolf amatir Indonesia pertama yang bisa bertahan di puncak klasemen pada hari pertama dan kedua, bahkan menjadi pimpinan klasemen pada akhir hari ketiga.

Finis sendirian di peringkat keempat juga membuatnya mencatatkan prestasi terbaik yang pernah ditorehkan oleh seorang pemain amatir sepanjang sejarah turnamen ini. Selain itu, kehadiran Naraajie di puncak klasemen sepanjang empat putaran gelaran Bank BRI Indonesia Open juga menjadikan Naraajie sebagai sebuah idola yang membangkitkan semangat para penggemar golf Indonesia untuk ikut mendukung bintang tuan rumah.

Meskipun sorotan menjadi milik Naraajie, sejumlah wakil Indonesia lainnya pun mampu mengakhiri perjuangannya dengan cukup baik. Rory Hie, yang sempat berharap bisa lebih meramaikan persaingan akhirnya finis dengan skor total 281 atau 7 di bawah par. Ia berada di peringkat T22.

Adapun Danny Masrin, yang kembali bermain 71, finis di peringkat T29 dengan torehan skor 282 atau 6 di bawah par. Joshua Andrew Wirawan finis dengan catatan even par 288 dan berada di peringkat 68. Sedangkan Kevin Caesario Akbar finis di peringkat T71 dengan skor total 290.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA