Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Kiai Lizamuttaqwa, Pendiri Pesantren di Grenjeng

Selasa 27 Aug 2019 20:20 WIB

Red: Agung Sasongko

Santri

Santri

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Pada abad 19 Kiai Lizamuttaqwa mendirikan sebuah pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID,  CIREBON -- Sekitar abad ke-19, kampung  Grenjeng di Kelurahan Harjamukti, Cirebon sudah menjadi kampung santri. Tokohnya yakni KH Lizamuttaqwa seorang ulama besar yang masih keturunan Mbah Muqoyyim Cirebon. Kiai Lizamuttaqwa-lah yang membuka perkampungan di salah satu wilayah di Harjamukti dan dinamai Grenjeng. Di tempat itu pula, pada abad 19 Kiai Lizamuttaqwa mendirikan sebuah pesantren.

“Berdasarkan sejarah dulu yang memulai babak-babak di tanah Grenjeng, membangun pesantren pertama di sini itu Kiai Lizamuttaqwa. Beliau aslinya dari keraton putranya Mbah Muqoyyim,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Wasiatul Ulama Cirebon, KH Ahmad Fauzan saat berbincang dengan Republika,co.id pada Selasa (27/8).

Mulanya, Kiai Lizamuttaqwa membangun sebuah mushola kecil dan menjadi tempat mengajarkan beberapa santri mengaji. Lama kelamaan banyak santri yang berdatangan dari berbagai tempat ke pedukuhan itu. Kiai Lizamuttaqwa menikahi seorang putri dari keraton kasepuhan yakni nyai ratu Endar Utari.

Menurut Kiai Fauzan, mulanya Kiai Lizamuttaqwa kerap berpindah-pindah tempat mensyiarkan Islam di Cirebon. Hingga kemudian membuka pedukuhan di Grenjeng dan mendirikan pesantren. Kiai Lizamuttaqwa puh meninggal saat melaksanakan ibadah di tanah suci. Kendati demikian tak ada data pasti tentang tanggal dan tahun wafatnya.

“Kiai Lizamuttaqwa ini perjalanan hidupnya menulis Alqur'an dengan tangannya dan ada juga kitabnya yaitu Hayatul Iman,” katanya.

Setelah Kiai Lizamuttaqwa wafat, aktifitas keagamaan di Grenjeng justru mengalami penurunan. Perkampungan yang banyak didatangi santri dari berbagai daerah itu perlahan menjadi sepi. Namun, sekitar tahun 1970an, cicitnya yakni KH Ja’far Amier mulai kembali menghidupkan kampung santri itu.

Ia mengawalinya dengan memperbaiki mushola peninggalan Kiai Lizamuttaqwa hingga akhirnya mendirikan pesantren yang diberinama Pesantren Wasiatul Ulama yang masih berdiri hingga saat ini.

“Jadi di sini sempat padam, Kiai Ja'far datang dan meneruskan yang sudah dibangun buyutnya,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA