Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Peneliti Sebut Teroris Kini Fokus Serang Polisi

Selasa 20 Aug 2019 20:00 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Andi Nur Aminah

Petugas Brimob berjaga pasca kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat (ilustrasi)

Petugas Brimob berjaga pasca kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat (ilustrasi)

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Perubahan target serangan ke polisi itu sudah dimulai sejak dua tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga riset The Habibie Center (THC) sebut target serangan teroris di Indonesia kini mulai berubah. Para pelaku teror kini lebih memilih untuk menjadikan pihak kepolisian sebagai sasaran utama.

Direktur Program dan Riset THC Muhammad Hasan Ansori mengatakan, perubahan target serangan itu sudah dimulai sejak dua tahun terakhir. Perubahan target itu, lanjut Ansori, karena para teroris marah dan dendam kepada polisi.

"Mereka selalu ditangkapi. Bahkan sebelum beraksi sudah ditangakap duluan oleh polisi," ujar Ansori dalam diskusi dan peluncuran buku 'Memberantas Terorisme di Indonesia: Praktik, Kebijakan, dan Tantangan', di Hotel Atlet, Jakarta Pusat, Selasa (20/8).

Baca Juga

Ansori menuturkan, hal itu tampak dari serangan teroris akhir-akhir ini yang menyasar pos-pos polisi dan bahkan Mako Brimob. "Kalau dulu kan teroris targetnya adalah sebanyak mungkin masyarakat," katanya.

Berdasarkan catatan THC, 74 persen penyerangan terorisme pada tahun 2017-2018 ditujukan pada polisi. Sedangkan masyarakat menjadi target hanya 10 persen. "Lima persen fasilitas agama dan 10 persen lagi adalah target baru lainnya," kata Ansori.

Terbaru, penyerangan terjadi di Mapolsek Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur. Terduga teroris dengan inisial IM menyerang Aipda Agus Sumartono dengan berpura-pura melapor. Akibatnya Aipda Agus menderita luka bacok senjata tajam.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut IM diduga terlibat jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD). "Saya sudah minta Densus 88 dan Polda Jatim bergabung untuk mengidentifikasi pelaku terkait jaringan JAD. Saya minta jaringannya dikejar dan ditangkap," kata Tito saat berkunjung ke rumah sakit Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya, Senin (19/8).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA