Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Majelis Tabligh Muhammadiyah Tanggapi Pelaporan Terhadap UAS

Selasa 20 Aug 2019 13:04 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ustaz Abdul Somad memberikan tausiyahnya saat acara MPR-RI Bersholawat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (29/8).

Foto:
Muhammadiyah menyampaikan tanggapan tentang upaya pelaporan UAS ke polisi.

Menanggulangi Pemurtadan: Awal Mula Muhammadiyah

Menurut Ustaz Fathur, pemaparan itu disampaikan dalam diskusi dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah kemarin, Senin (19/8). Berbagai respons positif diterimanya.

Di antaranya datang dari KH Syukrianto AR, yang tak lain ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2005-2010. Kiai Syukrianto juga merupakan putra KH AR Fahruddin rahimahullah (ketua umum PP Muhammadiyah 1968-1990).

Dalam diskusi itu, ada kesamaan pandangan, yakni apa yang disampaikan UAS hanyalah untuk meneguhkan akidah umat Islam. Tak ada maksud selain itu.

Ustaz Fathur menuturkan, dalam diskusi itu, Kiai Syukrianto juga mengajak para dai untuk selalu istikamah, tak letih menuntun umat dengan cara-cara yang damai, santun, dan menyejukkan.

"Pak Syukri AR, begitu beliau akrab disapa, mengingatkan bahwa, jauh sebelum Muhammadiyah berdiri, sekitar tahun 1902, KH Ahmad Dahlan, sebagai abdi dalem pametakan dipanggil HB VII untuk diajak mencari cara menanggulangi pemurtadan kaum pribumi di sekitar 17 pabrik gula di wilayah kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat," ujar Ustaz Fathur menceritakan ulang penuturan Kiai Syukrianto.

photo
Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan (ilustrasi).
Pada 1903, sang pendiri Persyarikatan Muhammadiyah itu menerima tugas untuk berkonsultasi dengan ulama di Makkah. Tujuannya untuk mencari cara mengatasi pemurtadan di belasan pabrik gula tersebut dengan cara damai, tidak menimbulkan keributan.

"Maka KH Ahmad Dahlan ke Makkah bersama putranya, Siraj Dahlan, dan tinggal di Makkah selama satu setengah tahun. Kebetulan saat itu Syekh Rasyid Ridha juga sedang haji. Maka KH Ahmad Dahlan oleh kemanakannya, Kyai Bakir--termasuk kakeknya Prof Chamamah Suratno, mantan ketua umum 'Aisyiyah--mukimin dan menjadi salah satu imam di Madjidi al-Haram dipertemukan dengan Syekh Rasyid Ridha," katanya.

Ketika kembali ke Yogyakarta pada 1904-an, KH Ahmad Dahlan lalu giat berdakwah dengan cara damai, santun, mengajarkan wal 'ashri (surah al-'Ashr) selama kira-kira delapan bulan, lalu surah al-Ma'un sekitar tiga bulan. Kiai Ahmad Dahlan juga mendidik anak-anak perempuan lewat pengajian Sopo Tresno pada 1904-an, yang lalu menjadi cikal bakal 'Aisyiyah. Beliau juga mendirikan pondok yang kelak menjadi cikal-bakal Mu'allimin dan Mu'allimat. Pada 1912, Kiai Ahmad Dahlan akhirnya mendirikan Muhammadiyah.

Maka dari itu, jelaslah bahwa berbagai upaya KH Ahmad Dahlan itu berawal dari keinginan untuk menanggulangi pemurtadan. Ini pun sebagai respons dan jawaban atas kegalauan Sri Sultan Hamengkubuwono VII, yaitu adanya pemurtadan kaum Pribumi di sekitar 17 pabrik gula di Ngayogyokarto Hadiningrat.

Maka dalam Statuten Muhammadiyah 1912 Artikel 2 dinyatakan, "Maka perhimpunan itu maksudnya: Pertama, menyebarkan pengajaran agama Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Bumiputra di dalam redidensi Yogyakarta dan, kedua, memajukan hal agama (Islam) kepada anggota-anggotanya."

"Salah satu ahli kristologinya adalah KH Zaini, adik KH Suja, adik KH Fahruddin, adik Ki Bagus Hadikusumo dan kakek dari Dr Busyro Muqoddas. Tulisannya yang terkenal 'Horeging Jagad Kristen'," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA