Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Ilmuwan Temukan Mikroplastik di Salju Arktik

Kamis 15 Aug 2019 12:36 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Indira Rezkisari

Salju Arktik.

Salju Arktik.

Foto: AP
Ilmuwan masih terus meneliti efek mikroplastik.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Ilmuwan menemukan banyak partikel plastik kecil atau mikroplastik di salju Arktik. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science Advances itu menunjukkan, mikroplastik tersedot ke atmosfer dan membawanya ke beberapa sudut terjauh planet ini.

Para peneliti memeriksa salju yang dikumpulkan dari situs-situs di Kutub Utara, Jerman Utara, Pegunungan Alpen Bavaria dan Swiss, serta Pulau Heligoland di Laut Utara, dengan proses yang dirancang khusus untuk menganalisis sampel di laboratorium. "Sementara kami berharap menemukan mikroplastik, konsentrasi yang sangat besar mengejutkan kami," kata seorang peneliti di Alfred-Wegener-Institute  Bremerhaven, Jerman, Melanie Bergmann.

Mikroplastik terjadi pada saat bahan atau benda buatan manusia pecah, menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dari lima milimeter. Studi sebelumnya telah menemukan mikroplastik di udara Paris, Teheran dan Dongguan, Cina.

Penelitian menunjukkan pecahan-pecahan tersebut dapat mengudara dengan cara yang mirip dengan debu, serbuk sari, dan partikel halus dari knalpot kendaraan. Ada kekhawatiran yang berkembang tentang dampak lingkungan dari mikroplastik. Namun, para ilmuwan belum menentukan efeknya, jika ada partikel kecil pada manusia atau satwa liar.

Bergmann, yang turut menulis penelitian ini, mengatakan, konsentrasi mikroplastik tertinggi ditemukan di Pegunungan Alpen Bavaria, dengan satu sampel memiliki lebih dari 150 ribu partikel per satu liter (0,26 galon). Meskipun sampel Arktik kurang terkontaminasi, konsentrasi tertinggi ketiga dalam sampel yang dianalisis para peneliti, 14 ribu  partikel per liter, berasal dari gumpalan es di Selat Fram di sebelah timur Greenland. Rata-rata, para peneliti menemukan 1.800 partikel per liter dalam sampel yang diambil dari wilayah itu.

Seorang ahli biologi di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia yang tidak terlibat dalam penelitian ini, Martin Wagner mengatakan, konsentrasi yang sangat tinggi sebagian dapat dikaitkan dengan metode yang digunakan para peneliti. Peneliti bisa mengidentifikasi mikroplastik seukuran 11 mikrometer, atau 0,011 milimeter, kurang dari lebar rambut manusia.

"Ini penting karena sebagian besar penelitian sejauh ini melihat mikroplastik yang jauh lebih besar. Studi ini menunjukkan bahwa transportasi atmosfer adalah proses yang relevan untuk menggerakkan mikroplastik, berpotensi dalam jarak jauh dan dalam skala global," kata Wagner.  

"Salju mungkin juga merupakan reservoir penting yang menyimpan mikroplastik dan melepaskannya selama salju mencair. Sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya," ucapnya.

Bergmann mengatakan, mikroplastik yang terdeteksi dalam penelitian itu termasuk pernis yang digunakan untuk melapisi mobil dan kapal. Para penulis menyarankan bahwa distribusi partikel plastik mikroskopis di udara sejauh ini telah diabaikan. Sehingga, itu perlu untuk dipantau dalam skema pemantauan pencemaran udara standar.

"Kami benar-benar perlu tahu apa efek mikroplastik pada manusia, terutama jika menghirup udara yang kita hirup," kata Bergmann.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA