Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Trump Ingin Bertemu Xi Jinping Bahas Krisis Hong Kong

Kamis 15 Aug 2019 09:42 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Israr Itah

Presiden Donald Trump menggelar buka bersama di Gedung Putih

Presiden Donald Trump menggelar buka bersama di Gedung Putih

Foto: Manuel Balce Ceneta/AP Photo
Pertemuan ini ditujukan untuk membahas krisis politik yang semakin mendalam.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyarankan adanya pertemuan dirinya dengan Presiden China Xi Jinping secara personal. Pertemuan ini ditujukan untuk membahas krisis politik yang semakin mendalam di Hong Kong. 

Melalui jejaring sosial Twitter, Trump meyakini bahwa Xi dapat menangani gelombang demonstrasi di Hong Kong yang semakin meningkat dengan cepat dan manusiawi. Ia juga mengatakan bahwa Xi pemimpin hebat yang sangat dihormati rakyatnya. 

“Pertemuan secara personal?” tulis Trump di akhir cicitan Twitter tersebut dilansir BBC, Kamis (15/8). 

Baca Juga

Komentar Trump datang menyusul gelombang demonstrasi yang terjadi di Hong Kong sejak awal Juni lalu semakin memburuk. Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa juga dilaporkan terjadi pada Selasa (13/8) malam, setelah aksi protes secara damai digelar. Termasuk di antaranya di Bandara Internasional Hong Kong yang mengganggu penerbangan.

Pemicu demonstrasi ini adalah langkah Pemerintah Hong Kong untuk melegalkan ekstradisi tersangka ke China daratan, Makau, dan Taiwan. Aksi ini terus meluas dan menjadi salah satu krisis politik paling serius, sejak Hong Kong dikembalikan ke Cina oleh Inggris pada 1997, dengan ketentuan ‘satu negara dua sistem’ yang berarti Hong Kong dapat mempertahankan hak-hak khusus untuk kota tersebut. 

Pada akhir Juli, Cina memperingatkan bahwa pihaknya akan mengerahkan pasukan bersenjata ke wilayah itu untuk memadamkan demonstrasi anti-pemerintah. Hal itu telah menimbulkan kekhawatiran secara meluas oleh para aktivis. Namun, sejumlah analis mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi. 

Secara terpisah, penasihat keamanan nasional presiden AS, John Bolton, memperingatkan Cina untuk mengambil langkah dengan hati-hati di Hong Kong. Ia juga mengatakan bahwa warga Amerika terus mengingat peristiwa yang terjadi di Lapangan Tiananmen pada 1989.

Saat itu, terjadi tindakan keras militer terhadap protes yang dipimpin mahasiswa pada 1989, tepatnya di Lapangan Tiananmen, di Ibu Kota Beijing, China. Bolton mengingatkan bahwa pengulangan tindakan semacam itu akan menjadi kesalahan yang besar. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA