Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Ini Catatan Gaikindo Soal Pengembangan Mobil Listrik

Kamis 15 Aug 2019 06:07 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Menteri ESDM Ignasius Jonan (ketiga kiri) didampingi Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar (kedua kiri) melihat mobil listrik Itenas pada acara peringatan ke-49 Hari Bumi Internasional di Museum Geologi Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/4/2019).

Menteri ESDM Ignasius Jonan (ketiga kiri) didampingi Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar (kedua kiri) melihat mobil listrik Itenas pada acara peringatan ke-49 Hari Bumi Internasional di Museum Geologi Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/4/2019).

Foto: Antara/Novrian Arbi
Industrialisasi mobil listrik harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan, industri otomotif sektor hilir paling siap untuk mengembangkan mobil bertenaga listrik. Hanya saja, Gaikindo menilai industrialisasi mobil listrik harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Gaikindo sebagai industri sektor hilir berharap agar industri dasar penyedia bahan baku serta industri komponen otomotif bisa menyesuaikan diri. Para produsen mobil di Indonesia juga tengah menantikan isi dan bunyi dari Peraturan Presiden tentang Mobil Listrik yang baru saja diteken Presiden Joko Widodo. 

Baca Juga

"Kita tidak boleh bergerak sendiri. Ini yang jadi persoalan. Kita harus komitmen bergerak secara keseluruhan, termasuk industri komponen. Gaikindo akan diskusi dengan industri pendukung lain," kata Kepala Kompartemen Pengembangan Industri Gaikindo, Ary Mariano di Jakarta, Rabu (14/8). 

Ary mengatakan, pemerintah juga harus memikirkan dampak dari adanya industri mobil listrik. Sebab, bukan tidak mungkin, lambat laun industri pabrik tangki bensin, mesin berbahan bakar fosil akan hilang. Hal itu sekaligus memberikan potensi pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja dari industri yang terkena dampak negatif. 

Pemerintah harus memikirkan dampak negatif terhadap industri dari peralihan tersebut. Mereka yang terdampak harus dipastikan bisa beralih dan mengikuti tren teknologi otomotif. Oleh sebab itu, ia menilai mengembangkan mobil listrik harus dilakukan secara bertahap. Negara-negara maju yang kini memiliki mobil listrik juga mengembangkan industrinya secara perlahan. 

Lebih lanjut, Ary menyebut soal pengadaan baterai mobil listrik yang harus dilakukan di dalam negeri. Gaikindo menilai pemerintah harus menyusun standar baterai mobil listrik karena sampai saat ini arahan pemerintah mengenai baterai belum jelas. 

"Mindset konsumen di Indonesia bagaimana? Masyarakat harus membiasakan diri. Isi bensin bisa 5 menit, isi baterai tidak cukup. Itu harus diubah, tidak hanya industri," ujarnya. 

Mengenai pasar dalam negeri untuk produk mobil listrik, Gaikindo meyakini pasti ada. Terutama bagi masyarakat yang saat ini sudah memiliki kesadaran terhadap lingkungan. Namun, soal kepastian pasar akan sangat bergantung kepada arah kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA