Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Pengamat: PSSI Terlalu Banyak Gelar Kongres

Ahad 11 Aug 2019 21:41 WIB

Rep: Fitriyanto/ Red: Endro Yuwanto

Logo PSSI

Logo PSSI

PSSI harus bisa menjelaskan kepada FIFA mengenai usulan untuk memajukan kongres.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerhati sepak bola Indonesia, Kesit Budi Handoyo, mengomentari penolakan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) untuk memajukan kongres PSSI. Intinya, jika memang FIFA menolak, maka mau tidak mau harus diikuti PSSI.

Berdasarkan hasil Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI pada 27 Juli 2019 di Ancol Jakarta, salah satu keputusannya adalah memajukan waktu kongres PSSI dari sebelumnya Februari 2020 menjadi 9 November 2019. Namun, FIFA meminta PSSI menyelenggarakan kongres untuk pemilihan ketua umum baru sesuai arahan FIFA, yakni sampai selesainya masa kepengurusan PSSI 2020.

Baca Juga

“Dengan adanya penolakan ini maka menjadi kesempatan bagi PSSI untuk menyiapkan pelaksanaan kongres sebaik mungkin sehingga bisa menghasilkan sebuah kepengurusan yang benar-benar kredibel,” ujar Kesit, Ahad (11/8).

Menurut Kesit, boleh jadi, permintaan FIFA ini disebabkan oleh terlalu seringnya PSSI menyelenggarakan kongres. Dibandingkan negara anggota FIFA lainnya, lanjut dia, Indonesia lebih sering menggelar kongres, akibat tidak pernah selesainya periode kepemimpinan di PSSI karena masalah yang kerap melanda organisasi.

"Coba saja hitung dalam 10 tahun terakhir berapa kali PSSI menyelenggarakan kongres luar biasa karena persoalan organisasinya. Sejak Nurdin Halid lengser kemudian diganti Djohar Arifin, lalu Djohar belum selesai kongres lagi diganti La Nyala, lalu kongres lagi diganti Edy Rahmayadi. Dan kini kongres lagi mau cari penggantinya,” jelas Kesit. "Energi PSSI akhirnya habis oleh persoalan yang dialami pemimpinnya. Hal penting yang seharusnya dilakukan PSSI dalam membangun sepak bola Indonesia menjadi terbengkalai akibat kisruh itu."

Sementara itu, ketua Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menyatakan, PSSI harus berkomitmen dengan hasil kongres luar biasa untuk menggelar kongres pada bulan November 2019 ini. "Sesuai dengan Pasal 26 Statuta PSSI, kongres adalah badan legislatif keputusan tertinggi di organisasi. PSSI memiliki tanggung jawab moral beri penjelasn ke FIFA, bukan serta-merta terima apa adanya penolakan FIFA tersebut,” ujarnya.

Akmal melanjutkan, PSSI harus bisa menjelaskan kepada FIFA mengenai usulan untuk memajukan kongres. “Ini kemungkinan PSSI tidak menjelaskan dengan detail mengapa kongres perlu dipercepat. PSSI jangan mengingkari hasil kongres luar biasa di Ancol lalu. Ada tanggung jawab moral kepada pemilik suara dan masyarakat sepak bola Indonesia,” tegasnya.

Menurut Akmal, hal ini bukan keputusan biasa apalagi keputusan kongres luar biasa disepakati pemilik suara. "PSSI harus pertahankan keputusan KLB dengan argumentasinya secara jelas kepada FIFA. Jika jelas, saya rasa FIFA akan menerima karena hanya satu bulan bedanya,”  jelasnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA