Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Krisis Air Ancam Seperempat Populasi Dunia

Rabu 07 Aug 2019 09:43 WIB

Rep: Febryan A./ Red: Ani Nursalikah

Seorang bocah Pakistan meminum air dari pompa umum di pinggir kota Islamabad. Pakistan menghadapi krisis parah akibat kombinasi pembengkakan populasi dan kegagalan pertanian yang membuat pasokan bersih berkurang.

Seorang bocah Pakistan meminum air dari pompa umum di pinggir kota Islamabad. Pakistan menghadapi krisis parah akibat kombinasi pembengkakan populasi dan kegagalan pertanian yang membuat pasokan bersih berkurang.

Foto: AP PHOTO/DITA ALANGKARA
Persediaan air terancam oleh perubahan iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sejumlah pakar dari World Resources Institute (WRI) menyatakan, seperempat populasi dunia di 17 negara kini hidup di wilayah dengan persedian air yang tak sebanding dengan kebutuhan warganya. Kekurangan stok air itu berpotensi mengarah ke kondisi krisis air.

Tiga negara teratas dalam kurangnya pasokan air dibandingkan kebutuhan warganya adalah Qatar, Israel, dan Lebanon. Sedangkan untuk kota yang paling parah, yakni Badghis di Afghanistan, Gabornoe serta Jwaneng di Bostwana.

"Kini kita menghadapi krisis air secara global. Populasi dan ekonomi kita tumbuh dan meminta air lebih banyak. Tetapi persediaan air terancam oleh perubahan iklim, pemborosan air dan serta pertumbuhan populasi," ujar Direktur Bidang Air WRI, Betsy Otto, seperti dilansir di The Guardian, Selasa (6/8)

Riset global membandingkan ketersediaan air dengan jumlah yang diambil untuk kebutuhan rumah tangga, industri, irigasi dan peternakan. Ternyata di 17 negara yang menghadapi katimpangan ketersediaan air ditemukan sektor pertanian, industri dan kebutuhan masyarakat urban telah menggunakan rata-rata 80 persen persediaan air setiap tahunnya.

Otto menakankan, berkurangnya pasokan air, meski sedikit saja karena perubahan iklim, maka akan memberikan dampak mengerikan. Sebanyak 12 negara yang paling berisiko krisis air tersebut berada di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Negara lainnya yang juga berisiko adalah India yang berada dalam urutan ke 13. Keterbatasan persedian air di negara dengan penduduk lebih dari 1,3 miliar itu sangat kentara.

Seperti pada Juli lalu, Kota Chennai yang berada di wilayh selatan India telah dilanda kekeringan. Sejumlah kamera satelit memperlihatkan bagaiman danau-danau di sana mengering.

"Krisis air yang terjadi di Chennai telah mengambil perhatian publik global, meski sejumlah area di India juga mengalami krisis air yang serupa," ucap peneliti senior WRI, Shasi Shekhar.

Berdasarkan penelitian Bank Dunia, risiko kekurangan persediaan air sering kali tak disadari dan tak terlihat. Meksi demikian, dampaknya yang besar akan terasa secara perlahan-lahan.

Otto mengtakan, di negara manapun, kekurangan pasokan air dapat mengancam persedian makananan, memperburuk konflik dan meningkatkan gelombang migrasi. Selain itu, sektor industri yang sangat bergantung pada air seperti pertambangan dan manufaktur juga akan sangat terdampak.

"Kondisi ini mengkwatirkan di banyak tempat di seluruh dunia, tetapi penting dicatat keterbatasan stok air itu bukanlah sebuah takdir. Kita tidak boleh berpura-pura situasinya akan teratasi dengan sendirinya," ujar Otto.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA