Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Nelangsanya Hidup Petambak Garam dan Nelayan

Sabtu 03 Aug 2019 07:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pekerja Pertamina sedang membersihkan tumpahan minyak anjungan lepas pantai YY PHE ONWJ di wilayah Karawang, Jawa Barat.

Foto:
Nelangsa Petambak Garam dan Nelayan

Sementara, nelayan di pesisir Marunda, Jakarta Utara, mengatakan, pencemaran yang ditimbulkan dari minyak atau limbah sangat berdampak terhadap hasil tangkapan mereka.

"Kalau limbah dan minyak bisa fatal. Nelayan bisa sama sekali enggak dapat hasil tangkapan," kata Rarat, nelayan yang sehari-hari melaut di sepanjang Kali Kanal Timur Marunda, Jakarta Utara, Jumat.

Ia mengaku setiap kali melaut, dirinya bisa mendapatkan 10 hingga 20 kilogram berbagai jenis ikan. "Kalau akhir-akhir ini lebih sering dapat rajungan," katanya.

Namun, ia menuturkan, hasil tangkapannya semalam berkurang drastis. "Enggak tahu kenapa. Semalam cuma dapat 1,5 kilogram ikan. Tadi sudah dijual dan cuma dapat Rp 40 ribu," kata dia lebih lanjut.

Dia menduga hasil tangkapannya berkurang akibat limbah atau minyak yang kemungkinan berasal dari tumpahan minyak yang sebelumnya mencemari Pantai Karawang.

"Kalau Pantai Karawang ke sini kan jaraknya tidak jauh. Memang biasanya dari Karawang mengarah ke Kepulauan Seribu. Namun, kalau arah anginnya ke sini, pencemaran minyaknya bisa sampai ke sini," kata dia menuturkan.

Kubil yang merupakan ketua asosiasi nelayan di pesisir Marunda mengatakan, ikan akan menjauh dari zona yang dicemari oleh minyak atau limbah sehingga hasil tangkapan nelayan akan berkurang drastis. "Jadi, nelayan bisa sama sekali tidak dapat tangkapan karena ikannya menjauh. Ikan-ikan ini akan datang lagi seminggu kemudian saat airnya sudah bersih," katanya pula.

Ia juga mengatakan pada umumnya ikan akan menjauhi jaring nelayan yang terkena minyak saat jaring-jaring tersebut berada di permukaan laut. "Minyak ini kalau di laut kan adanya di atas permukaan. Kalau ada minyak, minyak-minyak ini akan menempel di jaring sehingga ketika jaring ini masuk ke dalam laut, semua jenis ikan akan menjauhi jaring ini. Jadi, pengaruhnya sangat besar dan beberapa hari terakhir hasil tangkapan kami memang berkurang."

Nelayan di Dermaga Baru Muara Angke, Jakarta Utara, juga mengeluhkan hasil tangkapan ikan yang berkurang. "Ikannya banyak mengambang gara-gara limbah airnya berminyak," kata pengurus kapal nelayan Andi saat ditemui di Dermaga Baru Muara Angke, Jakarta, Jumat.

Andi mengatakan, kondisi tersebut telah dirasakannya sejak tiga hari yang lalu. Akibatnya hasil tangkapan ikan menurun hingga 40 persen. Nelayan-nelayan harian yang umumnya berangkat melaut sejak pukul 06.00 WIB itu biasa menangkap ikan di perairan Tanjung Priok hingga Kepulauan Seribu.

Menurut Andi, sebelumnya ia biasanya dapat menangkap ikan, termasuk tembang dan rajungan, rata-rata hingga lima kuintal. Saat ini, ia hanya mampu menangkap ikan sekitar dua kuintal per hari. "Ikannya segar, tapi kayak mabok begitu," ujarnya lagi.

Sementara, limbah minyak mentah yang dikumpulkan di sepanjang bibir Pantai Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, rata-rata mencapai 1.000 karung. Limbah itu berupa gumpalan pasir bercampur minyak mentah per hari. "Itu baru di area bibir Pantai Cemarajaya," kata Kepala Desa Cemarajaya Yong Lim Supardi, di Karawang, kemarin.

Menurut dia, saat ini seratusan masyarakat dari berbagai kalangan seperti nelayan, tukang ojek, hingga nelayan ikut terlibat dalam kegiatan bersih-bersih pantai itu. Mereka memasukkan gumpalan pasir bercampur dengan minyak mentah di area bibir pantai kemudian memasukkannya ke dalam karung. Selanjutnya karung berisi limbah minyak mentah itu dikumpulkan di halaman kantor desa, sebelum dibawa ke tempat pengolahan limbah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA