Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Sampah: Antara Barus, Risma, dan Anies

Kamis 01 Aug 2019 09:52 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Petugas gabungan Bea dan Cukai, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perdagangan dan Polri mengecek sampah plastik yang mengandung limbah berbahaya dan beracun (B3) sebelum diangkat ke atas kapal untuk di re-ekspor ke negara asal di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Senin (29/7/2019).

Petugas gabungan Bea dan Cukai, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perdagangan dan Polri mengecek sampah plastik yang mengandung limbah berbahaya dan beracun (B3) sebelum diangkat ke atas kapal untuk di re-ekspor ke negara asal di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Senin (29/7/2019).

Foto: Antara/M N Kanwa
Muncul kontroversi pengelolaan sampah di Ibu Kota.

Oleh: Dr Syahganda Nainggolan, Alumnus Pascasarjana Studi Pembangunan ITB

Suatu hari, beberapa tahun lalu di Boulevard Kawasan Mega Kuningan, saya berjalan dengan kawan, seorang doktor alumnus Amerika dan saat ini anggota DPR RI ke suatu gedung di sana. Enak tentunya berjalan di kawasan itu karena trotoarnya lebar.

Namun, keenakan saya terganggu ketika dia melempar botol Aqua ke jalan, setelah meminumnya tampak dahaga. Tanpa disadarinya saya mengambil botol itu dan melemparkannya ke tempat sampah. Saya tidak ingin dia tersinggung karena dia seorang tokoh.

Dari seluruh kenangan saya berjumpa dengan dia adalah kenangan buruk membuang sampah plastik ke tengah jalan. Di tengah keramaian kawasan yang bersih. Oleh seorang alumnus Amerika. Bagaimana mungkin? Namun, itu terus-menerus menjadi teka-teki saya, bagaimana seorang itu bisa mempunyai persepsi yang tepat tentang sampah, terlebih sampah plastik?

Saat ini, masalah sampah menjadi wacana publik, setelah Bestari Barus, anggota DPRD DKI Nasdem, menyerang Anies karena menurutnya Anies tidak mampu menyelesaikan soal sampah di DKI. Barus meminta Wali Kota Surabaya Risma untuk mengajari Anies soal manajemen pengelolaan sampah. Dan Risma yakin bahwa dia mampu menyelesaikan persoalan sampah di DKI itu.

Apakah persoalan sampah DKI akan selesai jika Risma datang ke Jakarta atau menjadi gubernur Jakarta nantinya? Wacana berkembang ke mana-mana. Meskipun ikan-ikan di kali Surabaya, di mana Risma berkuasa, 80 persen mengandung sampah mikro plastik, sesuai data Yayasan Ecoton dan juga pencemaran 30 pabrik sesuai data pemda. Meskipun, tokoh Nasdem, atasan Barus, yang menjadi menteri perdagangan, mengijinkan impor sampah eks luar negeri ke Jakarta dan Surabaya.

Tentu saja persoalan sampah tidak akan selesai dengan kepemimpinan yang berganti. Maksudnya, masalah sampah adalah masalah bersama dan berjangka panjang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA