Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

UNICEF Kecam Penembakan Siswa Sekolah di Sudan

Selasa 30 Jul 2019 14:02 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Pengunjuk rasa di Sudan menentang dewan militer di Khartoum, Sudan, 30 Juni 2019.

Pengunjuk rasa di Sudan menentang dewan militer di Khartoum, Sudan, 30 Juni 2019.

Foto: AP Photo/Hussein Malla
Anak-anak yang meninggal dunia tersebut berusia antara 15 hingga 17 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, KHARTOUM -- UNICEF mengecam penembakan terhadap empat siswa sekolah menengah di kota Al-Obeid di Kordofan Utara. Anak-anak yang meninggal dunia tersebut berusia antara 15 hingga 17 tahun.

"Anak-anak usia 15 hingga 17 tahun melakukan aksi protes di awal tahun ajaran baru sekolah dan di tengah ketidakpastian politik di Sudan. Tidak ada anak yang harus dimakamkan dengan seragam sekolah mereka," ujar UNICEF dalam sebuah pernyataan, dilansir Anadolu Agency, Selasa (30/7).

Dalam sebuah pernyataan, kantor UNICEF di Sudan menyerukan membawa pelaku ke pengadilan. Selain itu, UNICEF menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati ketentuan Konvensi Hak-Hak Anak dan Undang-Undang Anak Sudan 2010. UNICEF juga meminta semua pihak menahan diri tidak melakukan pelanggaran berat terhadap anak-anak, termasuk merekrut mereka bergabung dengan kelompok bersenjata.

Demonstrasi meletus di Khartoum dan pengunjuk rasa menutup jalan-jalan utama yang menghubungkan ibu kota Sudan ke kota-kota lainnya. Saksi mata mengatakan, ribuan orang turun ke jalan-jalan utama, tepatnya di Jalan Siteen, Khartoum. Mereka membawa spanduk yang menyerukan agar pelaku penembakan terhadap anak-anak diadili.

Penembakan terhadap empat siswa sekolah tersebut berlangsung pada Senin (29/7). Suara tembakan terdengar ketika para remaja itu melakukan aksi unjuk rasa memprotes kekurangan bahan bakar dan roti di Kordofan Utara. Kondisi ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara oposisi dan penguasa militer yang mengambil alih pemerintahan pascalengsernya mantan presiden Omar al-Bashir.

Aljazirah melaporkan, kelompok protes utama Sudan, Sudanese Professionals Association (SPA) mengatakan, petugas keamanan menggunakan amunisi langsung untuk melawan massa aksi. SPA mengecam tewasnya pengunjuk rasa yang sebagian besar masih remaja tersebut.

"Kami menyerukan kepada orang-orang kami untuk turun ke jalan mengecam pembantaian Al-Obeid, untuk menuntut para pelaku diadili," kata SPA dalam sebuah pernyataan.

Pihak berwenang di Kordofan Utara langsung memberlakukan jam malam yakni dari pukul 21.00 hingga 06.00 waktu setempat. Plt Gubernur Kordofan Utara, Mohamed Khidr Mohamed Hamid mengatakan kepada Al-Arabiya TV, ia belum dapat mengonfirmasi pelaku yang menembak empat remaja tersebut. Hingga kini, insiden penembakan itu masih dalam penyelidikan.

Dalam sebuah pernyataan, Komite Sentral Dokter Sudan (CCSD) mengatakan, penembak jitu telah menembaki para pengunjuk rasa yang dilakukan siswa sekolah di kota Al-Obeid. Identitas penembak tersebut masih belum diketahui.

Berdasarkan video yang beredar di sosial media menunjukkan, para siswa melakukan aksi protes di luar rumah sakit utama Al-Obeid. Mereka menuntut kehidupan dan keadilan yang lebih baik.

Aliansi oposisi Sudan Forces for Freedom and Change (FFC) mengecam penembakan yang menewaskan empat remaja di Al-Obeid. Mereka menuding Dewan Transisi Militer (TMC) dan Rapid Support Forces (RSF) bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

"Kami percaya TMC dan pasukannya termasuk tentara dan RSF bertanggung jawab atas penembakan ini, karena mereka adalah orang-orang yang melindungi warga sipil. Karena itu mereka harus membawa para penjahat yang terlibat dalam penembakan ini ke pengadilan," ujar FFC dalam sebuah pernyataan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA