Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Korupsi, Pahlawan, Pemberontak: Kisah Jatuh Bangunnya VOC

Sabtu 27 Jul 2019 12:49 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Perlawanan rakyat Ternate. (Foto koleksi DR Muridan: Sampul buku tentang perjuangan Sultan Nuku)

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)

Foto:
Perusahaan terkaya dalam sejarah punya pasukan milter

Namun dunia berubah. Jika tak menyesuaikan diri, raksasa sebesar apapun akan punah. Kompetisi bisnis semakin tinggi. Banyak muncul perusahan baru yang juga mengeksplorasi bidang serupa. Membawa rempah-rempah ke Eropa dari tempat sejauh wilayah Nusantara tak lagi efisien.

Biaya birokrasi dan militer juga bertambah akibat harus mengelola perlawanan penduduk lokal. Korupsi mulai pula menggerogoti. Terjadi pembusukan moral di kalangan petinggi VOC. Semua itu menjadi virus yang perlahan menenggelamkan VOC.

Lebih tragis lagi kisah sang pendiri VOC: Johan Olden Barnavelt. Ia sebelumnya banyak dipuja selaku tokoh dengan kemampuan luar biasa di bidang politik, bisnis dan intelektual. Namun dalam pergolakan politik zamannya, ia berpihak pada kelompok yang akhirnya kalah.

Di era itu, Belanda dilanda konflik membelah berdasarkan agama. Berhadapan kelompok dari kaum Calvinist (Gomarists) melawan kelompok Arminians. Itu era ketika berbeda paham agama menjadi perbedaan hidup dan mati.

Johan dikenal berdiri di pihak Arminians atas nama politik toleransi. Namun konflik paham agama meningkat menjadi konflik bersenjata. Pihak Calvinist dikalahkan. Johan pun dicap pemberontak.

Di usia 71 tahun, ia dihukum mati dengan kepala dipancung. Sebelum dihukum mati, Johan berucap: “Saya bukanlah pemberontak. Saya meyakini sikap politik saya selaku seorang patriot. Saya mati karena sikap ini”

Zaman berubah. Kekuasaan berubah. Persepsi berubah. Sikap politik Johan Van Olden Barnavelt kini dimaklumi dan dihormati. Dari seorang pemberontak, kini ia dianggap pahlawan. Namanya diabadikan sebagai nama kapal, nama sekolah dan nama pulau.

Di Globe Theater, saya terdiam lama. Saya tak hanya mengunjungi sebuah situs kesenian. Namun di sana saya temukan pula sepotong sejarah. Saya temukan kisah tokoh yang ditenggelamkan karena kalah secara politik. Namun karena jasa dan keagungan sikap, waktu tiba melahirkannya kembali.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA