Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Harga Hewan Kurban di Sulawesi Selatan Naik

Jumat 26 Jul 2019 15:34 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) Peternak menyiapkan makanan untuk sapi ternak di Makassar, Sulawesi Selatan.

(Ilustrasi) Peternak menyiapkan makanan untuk sapi ternak di Makassar, Sulawesi Selatan.

Foto: Yusran Uccang/Antara
Pada musim kurban tahun ini, harga sapi di Sulawesi Selatan cenderung naik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga hewan kurban, khususnya sapi, di sejumlah titik Provinsi Sulawesi Selatan meningkat. Keadaan ini terjadi menjelang Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, stok hewan kurban pada musim kurban tahun ini cenderung mengalami kenaikan.

"Sebenarnya ada penambahan stok sekitar 20 persen hewan kurban, namun ternyata tidak mendorong penurunan harga, justru harga tetap naik," kata pedagang sapi terbesar di Jalan Tun Abdul Razak, Kabupaten Gowa, Daeng Se're kepada Antara, Jumat (26/7).

Dia menjelaskan, stok sapi miliknya sekitar 90 ekor. Ini lebih banyak sekitar 20 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, harga jualnya mulai Rp 11,5 juta hingga Rp 35 juta per ekor.

Baca Juga

Menurut dia, harga sapi kurban pada tahun lalu masih dapat berkisar Rp 9 juta. Namun pada musim kurban tahun ini harga terendah sapi terpaut pada Rp 11,5 juta per ekor.

Hal ini terjadi seiring dengan harga daging sapi di pasaran yang terus naik, dari Rp 100 ribu per kilogram menjadi Rp 120 ribu per kilogram. "Karena itu, penentuan harga hewan kurban itu disesuaikan dengan taksiran bobot hewan kurban itu," ujarnya.

Hal senada dikemukakan penjual hewan kurban di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, H Syamsuddin. Dia mengatakan, harga baik hewan kurban maupun daging sapi setiap tahun meningkat. Ini disebabkan harga penjualan sapi di tingkat peternak terus naik.

"Kami membeli sapi dari peternak dengan harga yang cukup mahal, jadi kami terpaksa turut menyesuaikan harga," katanya.

Adapun menurut peternak sapi lain di Maros, M Ilyas, harga sapi yang naik di tingkat peternak itu karena pertimbangan biaya perawatan dan pakan. "Kami harus menggaji pekerja untuk mencari rumput dan makanan tambahan untuk sapi-sapi kami," ujar Ilyas.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA