Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

JK: Inflasi Seperti Tekanan Daerah, Bagusnya Tengah-Tengah

Kamis 25 Jul 2019 14:08 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Friska Yolanda

Wakil Presiden Jusuf Kalla berbicara dalam acara Presidential Lecture 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Wakil Presiden Jusuf Kalla berbicara dalam acara Presidential Lecture 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Foto: Antara/Aprillio Akbar
Inflasi yang terlalu rendah tidak baik untuk perekonomian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta sinergi pemerintah, Bank Indonesia (BI), pemerintah daerah, dan dunia usaha untuk mengendalikan laju inflasi nasional. JK menilai, laju inflasi sebaiknya tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu rendah.

Hal itu disampaikan JK saat hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakonas) Pengendalian Inflasi tahun 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (25/7).

"Inflasi itu seperti tekanan darah, kalau tinggi kita bisa pingsan, tapi kalau inflasi rendah atau deflasi, kita juga pusing, bisa pingsan juga. Jadi tekanan darah yang bagus itu di tengah-tengah," ujar JK.

Baca Juga

JK mencontohkan inflasi begitu tinggi di Venezuela mengakibatkan ekonomi di negara tersebut terpuruk. Menurutnya, jangan sampai hal itu dialami Indonesia seperti pada era tahun 1965.

"Kalau inflasi tinggi, hiperinflasi, ekonomi akan ambruk seperti Venezuela. Untuk membeli roti saja harus bawa segepok uang. Kita alami itu tahun 65 mau beli beras mau beli minyak tanah susah," ujar JK.

Namun demikian, kata JK, inflasi yang begitu rendah juga tidaklah baik bagi perekonomian. Itu karena, tidak ada semangat dalam dunia usaha.

"Kalau inflasi nol persen kayak di negara lain, itu pengusaha tidak ada semangat. Harga begitu terus, nggak naik sedikit," kata JK.

Menurut JK, untuk membicarakan inflasi memang tidak hanya sekadar soal kenaikan harga. Tetapi juga karena ada ketidakseimbangan antara uang dan barang dalam waktu terus menerus.

"Karena inflasi apabila naik terus menerus dalam waktu tertentu secara umum akibat adanya ketidakseimbangan antara uang dan barang," kata JK.

Karenanya, dalam Rakonas Pengendalian Inflasi hari ini, JK berharap ada kesepahaman semua pihak untuk terus menjaga laju inflasi.

"Kalau menurun, dia merasa miskin dia tak bisa bayar pajak. itu kalau inflasi terjadi. Kalau terjadi deflasi, pengusaha yang rugi, kalau pengusaha rugi dia bisa PHK tak beri pendapatan ke orang juga, bisa susah juga. Ingat tekanan darahnya kalau inflasi, harus stabil," kata JK.

Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla juga menyerahkan penghargaan kepada daerah yang Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dianggap mampu mengendalikan laju inflasi di daerahnya dan menyumbang pengendalian inflasi secara nasional. 

Dalam penyerahan tersebut, Wapres JK didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Penghargaan TPID award diberikan dengan tiga kategori yakni, kategori TPID berprestasi, TPID terbaik dan TPID provinsi terbaik. 

 

TPID berprestasi diraih oleh:

-Wilayah Sumatera: TPID Deliserdang

-Wilayah Jawa bali: TPID Kabupaten Badung

-Wilayah Kalimatan:TPID Mahakam hulu

-Wilayah Sulawesi: TPID Pohuwato

-Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, Papua: TPID M

Kabupaten Lombok Barat.

 

Sementara, daerah yang mendapat penghargaan TPID terbaik antara lain:

-Wilayah Sumatera: TPID Tanjung Pinang

-Wilayah Jawa Bali: TPID Kota Kediri

-Wilayah Kalimantan: TPID Kota Samarinda

-Wilayah Sulawesi: TPID Palopo

-Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, Papua: TPID Kota Mataram

 

Untuk kategori TPID provinsi terbaik, diraih oleh:

-Wilayah Sumatera: TPDI Provinsi Bengkulu

-Wilayah Jawa Bali: TPID Provinsi DKI Jakarta

-Wilayah Kalimatan: TPID provinsi Kalimantan Timur

-Wilayah Sulawesi: TPID Provinsi Gorontalo

-Wilayah Nusa tenggara, Maluku, Papua: TPID NTB

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA