Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Teh dari Jawa Barat Gagal Pikat Konsumen Inggris, Mengapa?

Kamis 25 Jul 2019 10:45 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Pekerja mengolah teh hitam di Pabrik Pengolahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII di Sukawana, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (11/5).

Pekerja mengolah teh hitam di Pabrik Pengolahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII di Sukawana, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (11/5).

Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi
Gubernur Jawa Barat mempromosikan teh daerahnya di Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil atau Emil mengunjungi kantor salah satu produsen teh Inggris, Finlays, dalam kunjungan kerjanya di Inggris, Selasa (23/7) waktu setempat. Pada kesempatan tersebut, Emil mempromosikan teh Jawa Barat di Inggris.

"Saya datang ke sini (kantor Finlays) jadi pemasar, mencoba jualan teh produk Jawa Barat," kata Gubernur Emil dalam siaran persnya.

Dalam kunjungannya, Emil membawa berbagai produk teh PTPN VIII, salah satunya white tea termahal di dunia yang berharga 60 dolar AS per kilogram. Namun, dia mengatakan bahwa teh dari Jawa Barat belum bisa memikat masyarakat Eropa, khususnya Inggris.

"Ternyata, katanya teh dari kita itu tidak pas saat dicampur susu. Habit mereka di sini kan, kalau minum teh pakai susu," ucapnya.

Situasi tersebut, menurut Emil, menjadi pekerjaan rumah bagi produsen teh Indonesia, khususnya Jawa Barat, agar bisa memasok kebutuhan teh Benua Biru, termasuk Inggris. Setelah mengunjungi kantor Finlays, Emil melakukan pertemuan dengan 12 pengusaha yang tergabung dalam UK Asean Bussines Council. Dalam pertemuan itu, Emil menjelaskan potensi investasi di Jawa Barat.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang tumbuh, khususnya Jawa Barat pertumbuhannya tahun kemarin 5,6 persen lebih tinggi dari rata-rata nasional," katanya.

Emil juga memaparkan berbagai pembangunan infrastruktur yang tengah dibangun di Jawa Barat, seperti Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung.

"Kami juga tengah mengembangkan kawasan segitiga Rebana yang akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yaitu Cirebon-Pelabuhan Patimban-Kertajati," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA