Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

FTC Mulai Investigasi Facebook Terkait Dugaan Monopoli

Kamis 25 Jul 2019 10:00 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nidia Zuraya

Mark Zuckerberg.

Mark Zuckerberg.

Foto: EPA
Mark Zuckerberg berkomitmen akan mengubah cara beroperasi Facebook

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Facebook mengungkapkan pada, Rabu (24/7), bahwa penyelidikan antimonopoli oleh Komisi Perdagangan Federal (FTC) berlangsung beberapa jam setelah agensi tersebut mengungkap penyelesaian privasi dengan perusahaan. Investigasi dilakukan atas inisiasi regulator untuk membatasi kekuatan perusahaan teknologi raksasa Amerika tersebut atas pelanggaran monopoli.

Facebook mengungkapkan salah satu penyelidikan yang dilakukan adalah mengenai pendapatan kuartalannya. FTC juga menyelidiki seberapa jauh Facebook telah menggunakan jangkauan dan kekuatannya untuk mengurangi persaingan.

Disebutkan, penyelidikan antimonopoli memulai tahap pemeriksaan yang lebih formal dan intensif. CEO dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengatakan ia mendukung penyelesaian privasi dengan FTC.

Mark berkomitmen akan mengubah cara beroperasi Facebook di seluruh perusahaan, dari kepemimpinan bawah hingga ke atas. Jika tidak, kata dia, maka Facebook akan dimintai pertanggungjawaban untuk itu.

"Industri teknologi daring dan perusahaan kami telah menerima pengawasan ketat dalam kuartal terakhir," kata Facebook dalam sebuah pernyataan resmi sebagaimana dilansir dari New York Times, Kamis (25/7).

Sebagai catatan, pada Rabu (24/7), FTC menguraikan akan memberikan sanksi ke Facebook karena pelanggaran privasi yang dilakukannya. Dalam kesepakatan dengan senator itu, Facebook didenda 5 miliar dolar AS karena menyalahgunakan data privasi pengguna.

Perusahaan juga diperintahkan untuk membuat lapisan pengawasan baru dalam realisasi pengumpulan dan penanganan data pengguna. Tetapi penyelesaian itu tidak membatasi penyelesaian keamanan data pengguna sehingga Facebook dikritik oleh anggota parlemen karena tidak bertindak cukup jauh dalam membatasi praktik-praktik keamanan data.

Seorang juru bicara untuk FTC mengkonfirmasi penyelidikan antimonopoli dan menolak berkomentar lebih lanjut. Seorang profesor hukum di Universitas Howard Andrew I Gavil mengatakan penyelidikan FTC mewakili komitmen staf dan sumber daya agensi.

"Itu juga menunjukkan ada alasan untuk percaya ada perilaku anti persaingan yang dapat dilihat," katanya.

Penyelidikan privasi FTC yang panjang ke Facebook, kata dia, bisa saja menghasilkan bukti yang membantu membujuk badan tersebut untuk melakukan penyelidikan antimonopoli.

Menurutnya investigasi dapat memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dia menyebut, FTC perlu mengkaji banyak hal antara lain presentasi temuan staf, masukan dari biro ekonomi lembaga dan oleh biro persaingannya, dibuat secara pribadi untuk lima komisioner. Komisioner yang ditunjuk pun secara politis kemudian memutuskan apakah akan membawa kasus tersebut ke meja hijau atau tidak, atau mencoba kemungkinan mencapai penyelesaian.

Berbeda dengan kasus privasi, kata dia, tidak ada ketentuan untuk denda dalam kasus antimonopoli sipil. "Tetapi apa yang bisa terjadi, jika terdakwa korporat terbukti melanggar undang-undang antimonopoli negara?" kata dia.

Meskipun demikian, perkembangan tentang pengawasan menjadi sorotan. Dalam 10 hari terakhir saja, Facebook, Google, Amazon dan Apple semuanya menghadapi tantangan dari Kongres dan pertanyaan dari regulator. Pekan lalu, eksekutif dari perusahaan menghadiri sidang DPR tentang masalah antimonopoli.

Google juga muncul pada dengar pendapat terpisah tentang sensor dan Facebook bersaksi di Capitol Hill tentang inisiatif cryptocurrency baru. Pekan ini, Departemen Kehakiman mengatakan akan memulai tinjauan antimonopoli tentang bagaimana raksasa internet telah mengumpulkan kekuatan pasar dan apakah mereka telah bertindak untuk mengurangi persaingan.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA