Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Pesona Masjid Sehitlik Jerman

Rabu 24 Jul 2019 18:18 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Sehitlik di kota Berlin

Masjid Sehitlik di kota Berlin

Foto: /www.webmastergrade.com
Ditilik dari sejarahnya, Masjid Sehitlik memiliki catatan yang sangat panjang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebangkitan umat Islam di Eropa dapat dilihat dari keberadaan masjid. Semakin banyak masjid, menunjukkan kuantitas keberadaan umat Islam di negara tersebut. Di Jerman khususnya, terdapat lebih dari 2.200 buah masjid yang menjadi tempat ibadah umat Islam.

Di negara Panzer ini, jumlah umat Islam mencapai 4,3 juta jiwa. Bahkan, keberadaan tempat ibadah kaum Muslim bisa dipastikan akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya umat Islam.

photo
Siluet Masjid Sehitlik, Berlin, Jerman/Reuters
Dari sekian banyak masjid di Jerman, terdapat satu buah masjid yang cukup megah di Kota Berlin, ibu kota Jerman. Namanya Masjid Sehitlik. Masjid ini berada di Jalan Columbiadamm di wilayah Tempelhof, sebuah wilayah yang terletak di tengah Kota Berlin. Dari kejauhan, tampak dua buah menara kembar yang berdiri kokoh dan indah, mendampingi masjid.

Ditilik dari sejarahnya, masjid ini memiliki catatan yang sangat panjang. Hubungan diplomatik antara Kekhalifahan Turki Usmani dan negara Jerman yang waktu itu masih bernama Kerajaan Prusia, melatarbelakangi pendirian masjid ini. Sejarahnya berawal ketika seorang duta besar dari Kekhalifahan Turki Usmani yang bernama Ali Aziz Efendi meninggal dunia di Berlin pada 1798.

Raja Prusia saat itu, Friedrich Wilhelm III, kemudian memberikan sebidang tanah di Tempelhof untuk dijadikan sebagai tempat pemakamannya. Sejak saat itu, lahan ini kemudian menjadi tempat pemakaman Muslim.

photo
Jamaah Muslimah tengah shalat berjamaah di Masjid Shitlik, Berlin, Jerman./Reuters
Seiring berjalannya waktu, kompleks pemakaman ini terus mengalami perluasan hingga mencapai 2.550 meter persegi. Pada saat Perang Dunia I, beberapa tentara Turki yang mengalami luka-luka dikirim ke Jerman untuk dirawat. Beberapa tentara yang meninggal dunia karena tak tertolong akhirnya dimakamkan di kompleks pemakaman ini.

Dengan latar belakang inilah kompleks pemakaman tersebut dinamai dengan bahasa Turki, yaitu Sehitlik yang berarti pemakaman para syuhada. Baru pada 1983, di dalam kompleks itu didirikan sebuah masjid yang bernama Masjid Sehitlik.

Masjid Sehitlik mengalami renovasi besar-besaran pada 1999. Perancang Masjid Sehitlik yang baru ini adalah seorang arsitek bernama Muharrem Hilmi Senalp. Ia juga dikenal sebagai seorang arsitek yang merancang Masjid Jami di Shibuya, Tokyo. Oleh karena itu, kedua masjid ini memiliki banyak kemiripan, khususnya pada bagian interiornya. Masjid Sehitlik yang sekarang berdiri memiliki gaya arsitektur khas Usmani klasik, yaitu masjid berkubah yang dilengkapi dengan menara beratap kerucut.

photo
Ruang shalat Masjid Sehitlik, Berlin, Jerman.
Mengikuti gaya arsitektur Masjid Selimiye di Turki, kubah Masjid Sehitlik ditopang oleh delapan pilar dan delapan half dome. Masjid yang berfungsi juga sebagai pusat kebudayaan Islam ini memiliki empat lantai. Lantai terbawah, yaitu ruang bawah tanah digunakan sebagai ruang serbaguna. Lantai dasar digunakan sebagai ruang pertemuan dan ruang shalat tambahan. Ruang shalat utama berada di lantai kedua. Balkon di lantai teratas digunakan sebagai ruang shalat wanita dan ruang shalat tambahan pada saat shalat Jumat. Jumlah luas dari keempat lantai ini adalah 1.360 meter persegi.

Ketika memasuki ruang shalat utama, kita akan dimanjakan oleh keindahan interior masjid yang dihiasi oleh berbagai hiasan khas gaya Usmani klasik, di antaranya adalah sebuah mihrab berukir dan mimbar tinggi yang terbuat dari batu marmer sebagai tempat untuk khatib berkhutbah. Sebuah lampu hias besar menggantung di kubah utama.

Bagian pusat dari kubah utama ini dihiasi kaligrafi surah Al-Ikhlas yang terbuat dari emas 23 karat. Kaligrafi bahasa Arab bertuliskan nama Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hassan, dan Hussain menghiasi bagian atas dari delapan pilar penyangga kubah utama.

photo
Seorang jamaah tengah membaca Alquran di Masjid Sehitlik, Berlin, Jerman.
Sementara itu, dinding masjid dihiasi oleh berbagai kaligrafi bahasa Arab dan hiasan berbentuk tumbuhan atau geometri. Batu marmer yang digunakan untuk pembangunan masjid ini diproses di Pulau Marmara, sedangkan keramiknya didatangkan dari Kota Iznik di Turki.

Tinggi kedua menara kembar dan kubah dari masjid yang letaknya berdekatan dengan Bandar Udara Internasional Tempelhof ini sempat menjadi permasalahan. Pemerintah setempat menggugat pihak DITIB (Organisasi Keagamaan Persatuan Islam Turki) selaku pembangun Masjid Sehitlik karena telah membangun menara dan kubah dengan tinggi yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Tinggi menara kembar dari masjid ini adalah 37,10 meter, sedangkan pada kesepakatan awal tinggi menara yang disepakati hanya 28,60 meter.

Adapun tinggi kubah yang kini mencapai 21,30 meter ternyata lebih tinggi 4,10 meter dari kesepakatan awal. Oleh karena itu, demi mempertahankan bangunan masjid ini, DITIB akhirnya membayar denda sebesar 80.000 euro atau sekitar Rp 1,2 miliar.

Luas seluruh kompleks Masjid Sehitlik adalah 2.805 meter persegi. Luas ini meliputi bangunan masjid yang multifungsi, kantor pengurus masjid, minimarket, pemakaman, dan taman.

Pusat keagamaan

Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Muslim di Berlin, khususnya umat Muslim yang tinggal di distrik Neukoeln dan Kreuzberg. Di masjid ini, selalu diselenggarakan kegiatan keagamaan sebagaimana di masjid lainnya, seperti shalat Jumat dan pengajian. Warga non-Muslim pun sering datang ke masjid ini ketika digelar acara open house atau pada kesempatan lainnya untuk mengenal Islam lebih dekat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA