Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Jelang Idul Adha, Mentan: Produksi Pangan Aman

Senin 22 Jul 2019 16:25 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Gita Amanda

Mentan Andi Amran Sulaiman.

Mentan Andi Amran Sulaiman.

Foto: Imas Damayanti/REPUBLIKA
Mentan meyakinkan rata-rata produksi bahan pangan surplus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah berlangsungnya musim kemarau, Kementerian Pertanian (Kementan) meyakinkan produksi pangan mulai dari beras hingga bahan pokok (bapok) pangan lainnya dipastikan tersedia. Untuk itu jelang Idul Adha masyarakat diminta untuk tidak khawatir terkait ketersediaan pangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat ditemui Republika.co.id, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, akhir pekan lalu mengatakan produksi pangan untuk Idul Adha telah ditambah sejak beberapa bulan lalu sebanyak 20-30 persen. Untuk itu dia menjamin, dalam Idul Adha nanti pasokan pangan akan terus tersedia.

Baca Juga

“Kita sudah antisipasi produksi dari jauh-jauh hari, ada banyak. Rata-rata produksi kita surplus,” kata Amran, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, akhir pekan lalu.

Dia mencontohkan, untuk pasokan beras, pemerintah sudah mengalami surplus sehingga Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang berada di gudang Bulog berjumlah 2,2 juta ton. Dia juga mengklaim, pengaruh kemarau tidak menurunkan produktivitas beras dan sejumlah bapok lainnya.

Kepala Bagian Informasi dan Humas Kementan Kuntoro Boga Andri menyampaikan, Indonesia sudah dapat dikatakan sebagai negara dengan status swasembada beras. Dia mencontohkan, bencana El-Nino pada 2015 lalu yang melanda Indonesia tidak mempengarui produktivitas pangan, termasuk beras.

Sebagai perbandingan, dia mengatakan, bencana ekstrem yang sama pernah terjadi pada 1998 di mana penduduk Indonesia saat itu berjumlah 201 juta jiwa, sedangkan pada 2015 berjumlah 255 juta jiwa. Menurut dia, bencana iklim pada 2015 dan 2016 lebih parah dari kondisi di 1997 dan 1998.

Maka dengan perbandingan kondisi dan jumlah penduduk pada masanya itu, jumlah beras impor pada 1998 sebesar 12,1 juta ton. “Maka harusnya pemerintah impor beras dong pada 2016 sekitar 16,8 juta ton kalau skala perbandingan jumlah penduduk dan kondisi serupa seperti itu. Tapi yang terjadi, impor beras pada 2016 nggak ada,” kata Kunto.

Menurut dia, beras yang masuk pada 2016 merupakan luncuran dari kontrak impor beras Bulog sebesar 1,5 juta ton pada akhir tahun 2015. Selain itu, dia menegaskan, di tahun-tahun selanjutnya seperti di 2017 tidak ada impor beras konsumsi yang dikeluarkan pemerintah.

Dia menegaskan, untuk itu kebutuhan beras saat ini sudah lebih dari cukup, terlebih untuk kebutuhan Idul Adha. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kerangka Sampling Area (KSA), produksi beras pada 2018 tercatat sebesar 32,95 juta ton dengan kebutuhan sebesar 29,57 juta ton.

Menurutnya, polemik kecukupan beras sebagai bahan pangan perlu dikaji ulang. Karena dengan karakteristik Indonesia sebagai negara tropis dengan kekayaan biodiversitas agraris, dia memastikan Indonesia mustahil kekurangan bahan pangan.

Terkait dengan ketahanan pangan, dia menambahkan, Berdasarkan catatan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Kementan, potensi sumber daya pangan Indonesia melimpah. Terdapat sekitar 100 jenis pangan sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, dan 450 jenis buah-buahan.

“Jadi ketahanan pangan bukan cuma beras saja, ini yang kerap dipandang terlalu sempit oleh sejumlah kalangan," kata dia.

Pengamat Pertanian Khudori menilai, kebutuhan beras dan bapok lainnya pada Idul Adha relatif tidak besar. Menurutnya, peningkatan konsumsi pangan pada Idul Adha hanya akan terjadi di hari H+1 dan H+2 Idul Adha.

“Beras itu dibutuhkan tidak terlalu banyak, paling masyarakat itu hanya pakai (beras) untuk bikin ketupat dan kebutuhan konsumsi yang standar,” kata Khudori.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA