Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Petani Melon Merugi Akibat Cuaca tak Menentu

Rabu 17 Jul 2019 22:37 WIB

Red: Ratna Puspita

Tanaman melon rusak (ilustrasi)

Tanaman melon rusak (ilustrasi)

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Cuaca tak menentu membuat tanaman melon yang siap panen mudah terserang hama.

REPUBLIKA.CO.ID, NGAWI -- Petani melon di Desa Kedungputri, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, merugi akibat kondisi anomali cuaca pada musim kemarau yang melanda saat ini. Petani melon setempat, Jarno mengatakan, kondisi cuaca di Ngawi yang tidak menentu selama beberapa bulan terakhir telah membuat buah melon yang ditanamnya rusak.

"Tanaman melon yang saya tanam rusak. Baik daun, batang, dan buahnya terserang hama dan penyakit," ujar Jarno kepada wartawan, Rabu (17/7).

Baca Juga

Menurut dia, kondisi cuaca yang tidak menentu selama dua bulan terakhir membuat tanaman melonnya yang siap panen mudah terserang hama dan membusuk. Kondisi cuaca yang panas, berangin, hujan di tengah kemarau, dan fluktuasi suhu yang ekstrem antara siang dan malam membuat tanaman melon tidak tumbuh maksimal dan mudah terserang hama serta penyakit.

"Akibatnya petani mengalami kerugian hingga jutaan rupiah karena hasil panen merosot drastis," kata dia lanjut.

Jarno menjelaskan, pada pertengahan bulan Mei 2019, ia menanam sebanyak 7.000 benih melon di lahan seluas seperempat hektare dengan modal sebesar Rp25 juta. Cuaca yang awalnya diprediksi bisa mendukung berubah drastis.

Anomali cuaca membuat tanaman melonnya gagal panen. Proyeksi awal dalam kondisi normal saat panen bisa menghasilkan sekitar Rp70 juta, realitanya hanya mampu menghasilkan Rp20 juta saja.

Sejumlah petani memilih mencabuti tanaman melonnya untuk mengurangi kerugian karena biaya perawatan yang membengkak. Selain itu, sebagian petani lalu beralih kembali menanam padi ataupun palawija.

Sementara, data Dinas Pertanian Ngawi menyebutkan tanaman hortikultural memang sangat berdampak pada anomali cuaca yang terjadi saat ini.

Anomali cuaca membuat tanaman menjadi stres dan mudah terserang hama serta penyakit. Hal itu, karena tanaman terganggu fungsi fisiologinya. Mulai dari penyerapan unsur hara, metabolisme, dan sistem fotosintesisnya.

Selain itu, anomali cuaca juga berdampak pada percepatan pertumbuhan populasi organisme pengganggu tanaman (OPT). Karena itu, dinas meminta kepada petani untuk mewaspadai timbulnya OPT pada musim tanam kali ini.

sumber : Antara
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA