Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Pencari Suaka yang tak Seberuntung Kita

Selasa 16 Jul 2019 18:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Suasana pengungsi para pencari suaka di gedung eks kodim, Jakarta Barat, Jumat (12/7).

Suasana pengungsi para pencari suaka digedung eks kodim, Jakarta Barat, Jumat (12/7).

Foto:
Sebanyak 1.100 pencari suaka ditampung di Gedung Eks Kodam, Daan Mogot

Ketua RT 005 RW 17 Kalideres, Jantoni mengatakan warganya bukan menolak pengungsi. Hanya saja penempatan para pengungsi di kawasannya yang ditolak. Alangkah lebih baik jika para pengungsi tersebut dipindahkan ke tempat lain.

“Warga bukannya menolak pengungsi, cuma penempatannya saja. Karena dengan jumlah pengungsi 1.100 orang kan di situ tidak memadai, itu saja yang diaspirasikan, apakah tidak ada tempat lain yang lebih layak dan lebih luas, itu saja,” kata Jantoni

Jantoni kemudian menuturkan alasan lainnya yang juga dikeluhkan warga Daan Mogot. Pertama, masalah kesehatan para pengungsi tersebut. “Karena waktu ditanya seingat saya mereka tidak di-screening jadi takutnya ada virus yang menular,” kata Jantoni menyampaikan keluhan warganya.

Kemudian yang kedua masalah keamanan. Menurutnya, memang ada penjaga yang ditugaskan Pemprov DKI di sana hanya saja tidak seperti yang dijanjikan 1x24 jam. “Saya cek hanya jam tertentu saja,” ungkapnya.

Alasan lainnya adalah masalah kemacetan. Jika kemudian terjadi kemacetan menurutnya solusi apa yang ditawarkan Pemprov. Karena lokasi gedung tepat bersebelahan dengan sebuah sekolah. Yang pada hari-hari normal pun sering kali macet sehingga warga tidak bisa membayangkan bagaimana kemacetan yang akan terjadi dengan ditambah 1.100 pengungsi.

“Masalah jalanan kalau macet solusinya seperti apa, karena memang terus terang  kalau audah mulai masuk sekolah, jam sekolah itu macet sekali apalagi tambah pengungsi ini,” terang dia.

"Jadi kalau bisa jangan di sini, di tempat yang lebih luas karena saya dengar-dengar dari mereka awalnya hanya 300 kenapa jadi 1.100, tapi katanya sih cuma seminggu, tapi saya juga tidak ngerti, ini urusan wali kota dengan instansi terkait, cuma (saat) kita rapat RW, RT, dengan Lurah, (katanya) akan carikan solusi,” ucap dia.

Jumlah pencari suaka yang kini menempati gedung eks Kodim, di Jalan Bedugul, Kalideres, terus bertambah. Para pencari suaka yang datang ke penampungan bukan saja mereka yang sebelumnya berkumpul di trotoar di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Melainkan, mereka yang juga datang dari berbagai daerah.

Salah satunya adalah Muhammad Yunus asal Afghanistan. Yunus mengaku baru datang di Jakarta Barat pada Jumat (12/4) pagi setelah mendapatkan kabar dari temannya. Bahwa semua pencari suaka berkumpul di gedung eks Kodim. Yunus sebelumnya tinggal di Depok dan tidak ikut melakukan aksi demonstrasi di Kebon Sirih atau tepatnya di depan Gedung UNHCR.

photo
Suasana pengungsi para pencari suaka di gedung eks kodim, Jakarta Barat, Jumat (12/7).
Pengakuan yang sama juga disampaikan oleh Muhammad Ali (24 tahun) warga asal Afghanistan. Ali sebelumnya pun tidak ikut berdemo di depan kantor UNHCR, tetapi diberitahukan teman yang ikut demo bahwa para pencari suaka diminta untuk menempati gedung tersebut. Ali bahkan baru sampai di Jakarta Barat pada Jumat siang.

“Kamu ikut saja di sini, siapa tahu mereka akan ngasih tempat tinggal. Tapi sampai sekarang belum ada (orang UNHCR) yang memberikan penjelasan apa pun,” kata Ali di Gedung Eks Kodim, Jalan Bedugul, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (12/7).

Kepala Rumah Detensi Imigran (Rudenim) Jakarta, Morina Harahap menyatakan tidak tahu pasti jumlah para imigran maupun pengungsi tersebut yang kini menempati gedung eks Kodim di Kalideres. Pihaknya pun masih turut memantau.

“Belum benar-benar diketahui (jumlah pastinya), karena masih terus berdatangan dari berbagai daerah, tapi lebih kurang sekitar 1.000 orang,” ujarnya.

Morina berharap agar masalah imigran dan pengungsi ini dapat segera mendapatkan solusi. Dan untuk mencapai itu, pihaknya pun siap untuk bergandengan tangan.

“Tentu kami siap bergandengan tangan dalam penanganan pengungsi sesuai peraturan Presiden Nomor 125 (Tahun 2016), tapi sesuai Pasal 24 Pemda (bertugas) mencarikan tempat sedangkan saya (Rudenim) lebih kepada pengawasan,” jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA