Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Kidung Akhir Tahun

Rabu 30 Jan 2019 06:47 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Dilarang Berbohong (Ilustrasi).

Dilarang Berbohong (Ilustrasi).

Foto: Republika/Prayogi
Wong bodo membodohi rakyatnya sendiri, wong pinter keminter minteri temannya sendiri

REPUBLIKA.CO.ID, Puisi Oleh: Restoe Prawironegoro

KIDUNG AKHIR TAHUN 2018
Bumi goyang, langit goyang,
bintang gemintang melayang-layang
lautan tumpah, gunung batuk berdahak-
dahak
rembulan demam, matahari panas dingin
hats ... chiiih!
hats ... chih!
preet!
Bau bacin memenuhi
udara menjadi senyawa O2
para pemimpin mabuk
dalam sandiwara tipu daya
wong bodo membodohi rakyatnya sendiri
wong pinter keminter, minteri temannya sendiri

Ealah.....
tak jenthit lolo lobah
wong mati ora obah
yen obah medeni bocah
yen urip golek duwit
duwit adalah raja adalah tuan yang
diperTuhan adalah binatang buruan
yang dikejar-kejar
siang malam dicari-cari dalam setiap
kesempatan dan kesempitan sampai akhirnya kita
mabuk kesetanan
mata hilang pandang, telinga hilang dengar
mulut hilang suara, lidah hilang kata,
kata-kata hilang makna, makna
menumpuk menyampah
di kantong-kantong dan laci-laci para pengusaha

O, inilah negeri hura-hura syalala
elu elu gua gua
hidup bagai dalam gerbong kereta api
tanpa rel
tanpa masinis
tak ada pemimpin di negeri ini
kecuali para pendusta
tak ada pengusaha di negeri ini
kecuali para penjajah

maka;
bila dalam sebuah negara masih ada
rakyat yang hdiup menderita
itu kesalahan para pemimpin
bila pemimpin menutupi dosa-dosanya
dengan segala cara,
rakyatlah yang akan menderita
menanggung akibatnya.

E, ladallah.
dalam hidup yang semakin parah
banyak orang rebutan tempat basah
sang pujangga jadi gerah
inilah zaman edan, katanya
Astagfirullah
jika benar ini zaman edan
yang waras itu siapa?

Dung plak dung dung ... ser
Dung plak dung dung ... ser
mau tahu seperti apa budaya bangsa
lihatlah jalan raya
mau tahu berapa besar kekayaan para pejabat negara
lihat saja berapa besar hutang negara

inilah negeri surga para maling
tak perduli pangkat dan status
siapa saja bebas mencuri, merampok dan menipu
karena hukum bisa diatur
telinga tak mendengar suara,
mulut tak mengenal kata-kata,
mata tak mengenal bentuk dan warna
pemimpin hilang nurani, rakyat hilang
akalnya

E, ladallah
Kenapa gue jadi marah-marah
apa karena tak bisa menjarah
tauk ah gelap

Binus-palmerah; 12-12-18


TENTANG PENULIS

Restoe Prawironegoro adalah cerpenis dan penyair yang karya-karyanya banyak menghiasi beberapa media massa cetak maupun digital. Tinggal di Jakarta.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA