Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Shalawat Cinta dari Venesia

Ahad 24 Feb 2019 14:42 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Shalawat Cinta dari Venesia

Shalawat Cinta dari Venesia

Foto: Rendra Purnama/Republika
Shalawat itu saya lantunkan di Venesia, sehingga menjadi shalawat cinta dari Venesia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Irwan Kelana
 
Betapa berat kakinya menaiki tangga pelaminan. Makin dekat ke arah pengantin, hatinya makin tak karuan. Ingin rasanya ia berlari sejauh mungkin, dan tak pernah ada jejaknya bahwa ia pernah datang ke acara ini: pernikahan Melati dengan Fadli.Tapi itu tidak mungkin.

Sekitar dua meter lagi ia akan tiba di hadapan pasangan yang berbahagia. Ini adalah pernikahan yang sangat indah bagi keduanya. Tapi menjadi duka yang paling dalam bagi hidupnya.

Satu meter lagi ia akan berada tepat di depan lelaki yang selama bertahun-tahun mengisi sepi relung batinnya. Rahasia yang tak pernah dia ungkapkan kepada siapapun. Bahkan ia tak berani menuliskannya di buku diary sekalipun. Satu-satunya tempat dia menuliskan perasaan cinta itu hanya hatinya.

Tanpa disadarinya, ia sudah berada tepat di depan lelaki itu.

Spontan ia menundukkan wajahnya. Tak berani menatap lelaki yang sering jadi mimpinya untuk mewujudkan cita-cita mencetak setengah lusin hafizh dari rahimnya kelak.

"Terima kasih, Habibah, sudah berkenan hadir," tiba-tiba terdengar suara lelaki itu.

Suara itu seperti jauh, namun buru-buru ia sadar. Ia menguatkan hatinya untuk mendongak dan menatap mata lelaki itu. Mata yang selama ini selalu dirindukannya.

"Se ... selamat ya, Kak Fadli. Semoga sakinah mawaddah wa rahmah," ujarnya bergetar.

Akhirnya dengan susah payah, meluncur juga kalimat itu dari bibirnya. Buru-buru ia melangkah berikutnya. Tepat di hadapan Melati, ia berusaha tersenyum sewajar mungkin. Meski ia akui, hal itu teramat sulit dilakukan.

Ia langsung memeluk Melati. “Selamat, De. Semoga sakinah mawaddah wa rahmah selamanya,” ujarnya perlahan.

“Terima kasih, Kak. Melati senang Kak Habibah datang dan mendoakan Melati,” kata Melati dengan nada ceria.

“Aku akan selalu mendoakanmu, De. Engkau wanita yang salehah, dan engkau pantas mendapatkan lelaki yang terbaik dalam hidupmu,” bisik  Habibah.

Tepat seminggu lalu, Melati mengirimkan undangan itu via What’s App. “Assalamu’alaikum, Kak Habibah. Datang ya, ke acara pernikahan Melati. Hari Ahad depan, di Balai Sudirman.”

Habibah tentu saja senang menerima undangan dari adik kelasnya di Fakultas Ekonomi UI, dan sekaligus kadernya di kegiatan Rohis mahasiswa UI. Namun tiba-tiba dia terkejut, saat melihat nama dan foto calon suami Melati: Fadli Rajab.

“Mas Fadli?!!!” tanpa sadar, Habibah berseru kaget.

Fadli Rajab adalah kakak kelasnya di SMA 1 Bogor. Ia adalah ketua OSIS. Orangnya ganteng, pintar dan jago main basket. Ia murid teladan tingkat nasional. Namun bukan hanya itu. Ia pun hafizh Qur’an dan qori bersuara merdu. Tipe pemuda Muslim masa kini yang sangat ideal.

Fadli mengajak Habibah duduk di kepengurusan OSIS. Ia diminta menjadi kepala seksi kerohanian Islam (Rohis).

Habibah sangat senang menjadi bagian dari organisasi kesiswaan yang dipimpin oleh pemuda saleh dan cerdas seperti Fadli Rajab. Bahkan, diam-diam, kekagumannya berubah menjadi perasaan khusus. Namun ia tak pernah berani menampakkannya kepada Fadli. Hingga akhirnya, Fadli diterima tanpa tes di Fakultas Teknik Elektro ITB.

Setahun kemudian, Habibah diterima di Fakultas Ekonomi UI. Juga tanpa tes.
Sejak Fadli lulus SMA dan kuliah di ITB, Habibah sempat bertemu dengannya di tiga acara silaturahim alumni selepas Idul Fitri. Ia sangat senang, namun lagi-lagi, ia tak pernah menampakkan perasaan apa pun kepada Fadli.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba Melati melanjutkan chatingannya. “Kak Habibah tahu enggak, pertemuan Melati dengan Mas Fadli itu seperti kebetulan. Tapi kita sama-sama percaya, bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua sudah diatur oleh Allah SWT. Ceritanya, bulan lalu, Melati dan keluarga pergi umrah. Ternyata Mas Fadli dan keluarga juga umrah. Dan kami menggunakan travel yang sama. Jadi, selama sembilan hari itu kami bersama. Saat di depan Ka’bah, Kang Fadli bertanya apakah Melati sudah ada yang mengkhitbah? Melati bilang, belum ada. Kalau begitu, kata dia, Mas Fadli mau mengkhitbah Melati."

"Coba bayangin, Kak. Bagaimana rasanya hati Melati? Seperti bunga yang bermekaran. Keesokan harinya, orang tua Mas Fadli meminang Melati di salah satu sudut Masjidil Haram. Subhanallah, Kak. Puitis dan romantis sekali. Dan pernikahan pun diputuskan dilaksanakan bulan depan.”

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA