Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Harga Ayam Diklaim Mulai Membaik karena Pengurangan Bibit

Senin 01 Jul 2019 18:50 WIB

Red: Nur Aini

Pekerja memanen ayam broiler dengan sistem kandang tertutup atau close house di Peternakan Naratas Poultry Shop, Kampung Alinayin, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (28/6/2019).

Pekerja memanen ayam broiler dengan sistem kandang tertutup atau close house di Peternakan Naratas Poultry Shop, Kampung Alinayin, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (28/6/2019).

Foto: Antara/Adeng Bustomi
Kenaikan harga ayam di peternak terjadi tidak hanya di sentra Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyebutkan bahwa harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak mulai naik di kisaran Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu per kilogram.

Baca Juga

"Sudah naik (harganya), di tingkat peternak di Jawa Tengah harganya Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu," katanya saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian Jakarta, Senin (1/7).

Ketut menjelaskan pergerakan harga ayam yang mulai membaik tidak hanya terjadi di sentra Jawa Tengah, tetapi juga Jawa Timur, Bali, Lampung, dan Bogor. Menurut dia, salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan harga ini melalui pengurangan bibit ayam umur satu hari DOC (day old chicken) dan final stock (FS).

Penarikan DOC tersebut dilakukan pada hatchery di tiga perusahaan pembibitan PS ayam ras broiler di Jawa Tengah yakni PT Charoen Phokphand Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia, dan PT Sumber Unggas Jaya. Namun demikian, Ketut menjabarkan bahwa dampak pengurangan DOC dan FS tersebut cukup cepat terhadap pengendalian suplai dan pengaruhnya terhadap harga.

"Logika saya, jika dikurangi telur atau kurangi hedgingegg, dampaknya mestinya bulan depan. Sekarang, satu hari saja sudah naik," katanya.

Anjloknya harga ayam di Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga Rp 6.000 per kilogram memang telah merugikan para peternak mandiri. Agar kejadian serupa tidak terulang, Kementerian Pertanian berupaya untuk membenahi jalur distribusi, yakni para broker (middleman).

"Saya maunya broker yang ada harus resmi sehingga ketika ada gejolak, akan mudah menelusuri lewat brokernya," kata Ketut.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menduga ada peran broker di balik anjloknya harga ayam potong di sejumlah daerah di Tanah Air dalam sepekan terakhir ini.

"Untuk menelusuri peran para broker ini kami sudah menerjunkan tim Satgas Pangan. Kami masih menunggu laporan lanjutan. Kalau ada yang berani ''bermain-main'', kami tidak segan-segan untuk menindak tegas dan memberikan sanksi berat," kata Mentan di sela kunjungannya di Loka Penelitian Sapi Potong di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jumat (28/6).

Amran mengatakan dalam sepekan terakhir ini ada disparitas yang sangat tinggi antara harga ayam potong di kalangan peternak dan di pasaran. Harga ayam di tingkat peternak sekitar Rp 6.000 hingga Rp 10 ribu per kilogram, sedangkan di tingkat konsumen masih sangat tinggi, yakni antara Rp 30 ribu-Rp 40 ribu per kilogram.

Untuk menelusuri lebih detail anjloknya harga ayam potong tersebut, Kementan telah menurunkan Tim Satgas Pangan di daerah sentra penghasil ayam potong, yakni di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA