Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Walhi Kritisi Tambang Batu Bara Ombilin Jadi Situs Dunia

Sabtu 06 Jul 2019 15:04 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Nidia Zuraya

Bekas tambang batu bara Ombilin Sumatera Barat ditutup dan dijadikan sebagai museum pendidikan tambang.

Bekas tambang batu bara Ombilin Sumatera Barat ditutup dan dijadikan sebagai museum pendidikan tambang.

Foto: Republika/Subroto
Walhi mencatat ada sekitar 13 IUP tambang batu bara yang beroperasi di Ombilin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Barat mengkritisi penominasian tambang batu bara Ombilin Sawahlunto, Sumatera Barat sebagai situs Warisan Dunia pada kongres 43rd World Heritage Committee di Azerbaijan. Walhi memandang masih ada situs lain yang seharusnya diajukan.

Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Barat, Uni Chaus mengatakan bila pemerintah serius menjadikan bekas tambang sebagai kota wisata tambang berbudaya dan pariwisata, maka aktifitas tambang batubara disana harus dihentikan. Sebab berpotensi merusak lingkungan, memicu konflik lahan dan merusak citra kota sebagai kota wisata yang aman dan nyaman.

Hingga saat ini, Walhi mencatat masih terdapat sekitar 13 IUP tambang batu bara yang masih beroperasi disana. “Apabila kota ini dijadikan situs warisan dunia, Kota Sawahlunto harus berbenah dengan menertibkan semua aktifitas tambang emas illegal yang hari ini dilakukan secara masif di sungai dan wilayah yang sebenarnya merupakan pintu masuk utama ke Kota Sawahlunto," katanya dalam keterangan resmi pada Sabtu (6/7).

Selain tambang, ia menyarankan pemerintah Sawahlunto harus mengevaluasi PLTU Ombilin karena masih mengeluarkan polusi dari Fly Ash dan Bottom Ash. Dari sisi jumlah, menurutnya polusi itu amat mengkhawatirkan.

Ia berharap pemerintah mengambil kebijakan untuk menutup PLTU Ombilin yang berada di Desa Sijantang, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto. "Menurut sejarahnya, Tambang Batubara Sawahlunto merupakan tambang pertama yang didirikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, situs tambang ini telah memperbudak banyak orang pada masanya. Aktivitas Batubara selama bertahun-tahun juga telah mengakibatkan dampak negatif terhadap masyarakat sekitar dan memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim," ujarnya.

Ia menilai penominasikan lokasi tambang tua batubara mengecewakan karena pemerintah berupaya menominasikan situs yang tidak benar-benar mencerminkan nilai-nilai Outstanding Universal Values (OUVs). Khususnya mengingat peran batubara dalam mendorong perubahan iklim, serta fakta bahwa flora dan fauna yang jauh lebih karismatik dan terancam punah dapat dan harus dinominasikan terlebih dahulu.

"Selain itu, ada pertanyaan yang lebih luas, apakah World Heritage Centre harus mengizinkan penominasian situs yang memperbolehkan penggunaan bahan bakar fosil yang merupakan faktor utama pendorong perubahaan iklim?" keluhnya.

Di sisi lain, ia meyakini Indonesia punya banyak pilihan kekayaan alam dan budaya yang seharusnya masuk pertimbangan prioritas untuk segera masuk dalam pengakuan warisan dunia. "Seperti ekosistem Batang Toru ataupun ekosistem Leuser secara menyeluruh, yang merupakan rumah bagi flora dan fauna karismatik yang terancam punah," ungkapnya

Pada tanggal 5-6 Juli 2019, Komite Warisan dunia akan memberikan voting terhadap situs-situs yang diusulkan. Pemerintah Indonesia menominasikan situs Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto untuk “ansambel teknologi yang direncanakan dan dibangun oleh insinyur Eropa di masa penjajahan mereka yang dirancang untuk mengekstraksi sumber daya batubara strategis.

Penominiasian ini memenuhi dua kriteria, (ii) untuk menunjukkan pertukaran nilai-nilai manusia yang penting, dalam rentang waktu atau dalam wilayah budaya dunia, tentang perkembangan arsitektur atau teknologi, seni monumental, perencanaan kota atau desain lansekap; dan (iv) untuk menjadi contoh yang luar biasa dari jenis bangunan, arsitektur atau teknologi ansambel atau lansekap yang menggambarkan (a) tahap penting dalam sejarah manusia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA