Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Gim Cuplikan Pembantaian Christchurch Beredar di Internet

Sabtu 06 Jul 2019 12:04 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ani Nursalikah

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Hagley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Hagley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

Foto: AP Photo/Mark Baker
Sebanyak 51 Muslim meninggal dalam penembakan di dua masjid di Christchurch.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Sebuah permainan video yang menggunakan cuplikan pembantaian umat Islam di Christchurch beredar di internet. Meme menampilkan wajah dan senjata pria yang didakwa dalam serangan itu. Pesan di forum online memuliakannya sebagai St. Tarrant.

Selandia Baru bekerja keras agar nama teroris yang membunuh 51 Muslim di Christchurch tidak muncul di berita. Hal itu juga untuk membatasi penyebaran online ideologi kebencian ia promosikan. Namun cuplikan, permainan, meme, dan pesan yang masih mengisi sudut-sudut gelap internet global menggarisbawahi besarnya tugas, terutama untuk negara kecil seperti Selandia Baru.

“Internet adalah lingkungan yang sangat kompleks dan kasar dan pemerintah, terutama pemerintah kecil, tidak memiliki 'kartu' sebanyak yang ingin mereka mainkan,” kata Ben Buchanan, pakar keamanan dunia maya yang mengajar di Universitas Georgetown, dilansir di New York Times, Sabtu (6/7).

Tak lama setelah serangan 15 Maret, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan dia tidak akan pernah mengucapkan nama pelaku. Dia juga berjanji akan melakukan apa pun yang dia bisa untuk mencegah pandangan teroris tersebut mendapat panggung.

Beberapa hari kemudian, pemerintah Selandia Baru melarang membagi atau melihat manifesto setebal 74 halaman yang diyakini telah ditulis pelaku. Negara itu juga menyatakan adalah kejahatan jika menyebar video yang dimaksudkan untuk menunjukkan pembantaian. Lebih dari 10 orang telah secara resmi diperingatkan atau dituntut.

Ardern menggagas Christchurch Call, untuk meminta perusahaan teknologi seperti Facebook, Google, Twitter dan Youtube, berbuat lebih banyak untuk mengekang konten kekerasan dan ekstremis. Ardern mencatat pemerintahnya dapat mengubah undang-undang senjata dan mengatasi rasialisme dan kegagalan intelijen.

"Namun kami tidak dapat memperbaiki penyebaran konten kekerasan secara online oleh kami sendiri," katanya.

Sebanyak 17 negara dan Komisi Eropa, serta delapan perusahaan teknologi besar, telah menandatangani seruannya. Dan akhir pekan lalu, para pemimpin di KTT G-0 di Osaka, Jepang, mengeluarkan permohonan mereka sendiri kepada perusahaan teknologi. Mereka menyatakan dalam sebuah pernyataan aturan hukum berlaku online seperti halnya offline.

Facebook mengatakan streaming langsung dari serangan Christchurch terlihat oleh kurang dari 200 pengguna, tetapi video serangan yang diposting kemudian ditonton oleh 4.000 orang lain. Platform tersebut juga memblokir lebih dari satu juta unggahan pada hari-hari setelah serangan itu. Tidak jelas berapa banyak unggahan yang telah dicoba dalam beberapa bulan sejak itu.

Video gim yang mengadaptasi rekaman Christchurch konon masih dibagikan secara online. Permainan itu dimodelkan pada permainan penembak orang pertama, itu melacak pria bersenjata yang memasuki masjid, menggambar senjata dan membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA