Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Air Bahan Baku Cincau Diduga Picu KLB Hepatitis A di Pacitan

Senin 01 Jul 2019 19:00 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Reiny Dwinanda

Perajin menyelesaikan pembuatan cincau di industri rumahan cincau. (Dok).

Perajin menyelesaikan pembuatan cincau di industri rumahan cincau. (Dok).

Foto: Antara/Siswowidodo
Virus hepatitis A diduga menyebar lewat cincau yang dibuat dari air sungai tercemar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap hasil penyelidikan epidemiologi oleh Dinas Kesehatan Pacitan dan Dinas Kesehatan Jawa Timur. Kejadian luar biasa (KLB) penyakit hepatitis A yang tengah melanda Pacitan diduga terjadi akibat tercemarnya Sungai Sukorejo dengan virus penyebab penyakit tersebut.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono mengatakan bahwa air di sungai ini dimanfaatkan dalam pembuatan makanan dan minuman, salah satunya cincau. "Tetapi dugaan ini harus diselidiki lebih lanjut," ujarnya saat konferensi pers update hepatitis A di Kemenkes, Jakarta, Senin (1/7).

Anung menjelaskan, pihaknya sudah menerjunkan tim tiga hari yang lalu untuk terus menyelidiki kasus ini. Kemenkes pusat dengan Dinas Kesehatan, menurut dia, telah membagikan desinfektan dan meminta supaya masyarakat tidak dulu mandi atau mengkonsumsi air di Sungai Sukorejo.

Baca Juga

"Kami juga mengingatkan masyarakat supaya menjaga kebersihan dan tidak mengkonsumsi makanan yang diragukan kebersihannya," ujarnya.

Anung menyebutkan, Kemenkes terus melakukan sosialisasi hal ini. Hingga saat ini, kasus hepatitis A di Pacitan sejak kasus pertama muncul 28 Mei 2019 hingga Ahad (30/6) sebanyak 957 kasus.

Sebanyak 41 orang masih dirawat di rumah sakit akibat sakit kuning. Anung mengatakan, warga terdiagnosis hepatitis A tersebar di sembilan wilayah kerja puskesmas. Menurut Anung, jumlah penderita hepatitis A yang mendapatkan perawatan terus menurun. Ia menjelaskan, virus ini memang tidak bisa bertahan lama di udara bebas.

Di tempat yang sama, Direktur Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu menduga, hepatitis A menular akibat masih banyaknya masyarakat yang buang air besar sembarangan di sekitar Sungai Sukorejo. Padahal, air sungai dipakai pengusaha cincau untuk memproduksi hidangan yang marak dikonsumsi warga saat bulan puasa itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA