Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Pengamat: Pemerintah Perlu Konservasi Sumber Air

Senin 01 Jul 2019 15:24 WIB

Red: Esthi Maharani

 Salah satu sumber air (ilustrasi).

Salah satu sumber air (ilustrasi).

Foto: Antara/Joko Sulistyo
Konservasi sumber air untuk mencegah kekurangan air bersih pada musim kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat lingkungan hidup dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Suprihatin mengatakan pemerintah perlu melakukan upaya konservasi sumber air untuk mencegah kekurangan air bersih pada musim kemarau.

"Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk itu misalnya penghijauan dan penggunaan lahan untuk tanaman tertentu," kata dia, Senin (1/7).

Penerapan konsep tersebut merupakan beberapa upaya yang bisa dilakukan agar air lebih lama mengendap atau tersimpan di tanah. Namun, selama ini pemerintah maupun masyarakat masih mengabaikan hal itu.

Akibatnya, lanjut dia, saat musim hujan potensi banjir akan lebih tinggi dan saat musim kemarau masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Oleh karena itu semua daerah terutama yang relatif berada di ketinggian perlu menerapkan.

Menurut dia, dengan sikap kurang memperhatikan lahan atau tidak diatur dengan baik, saat hujan air tersebut langsung mengalir ke sungai. Padahal, air tersebut dibutuhkan masyarakat dari berbagai aspek seperti irigasi.

Irigasi tersebut ujarnya, dibutuhkan untuk mengaliri air ke lahan pertanian masyarakat. Jika pasokan air kurang maka lahan persawahan akan terancam gagal panen dan menimbulkan kerugian ekonomi.

"Karena sumber utama air itu dari hujan," katanya.

Ia juga mengkritisi selama ini pemerintah maupun masyarakat hanya mencarikan solusi jangka pendek terkait ketersediaan air apabila terjadi musim kemarau sehingga belum menjawab persoalan secara kompleks.

Sebagai contoh, saat terjadi kekeringan di beberapa daerah pemerintah hanya cenderung menyiapkan pasokan air bersih bagi masyarakat. Padahal langkah itu hanya mengatasi masalah dalam waktu singkat.

"Oleh karena itu masalah lingkungan harus dilihat dari kurun waktu yang jauh ke depan, atau jika ingin menganalisa sekarang harus tau apa penyebab sebelumnya," ujar dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA