Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Aplikasi Si-Perditan Kurangi Risiko Gagal Panen

Ahad 30 Jun 2019 16:58 WIB

Red: EH Ismail

Petani membabat tanaman padinya yang rusak akibat kekeringan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (28/6/2019).

Petani membabat tanaman padinya yang rusak akibat kekeringan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (28/6/2019).

Foto: Antara/Siswowidodo
Sistem ini bermanfaat untuk perencanaan pola tanam dan sistem budidaya pertanian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan berbagai cara mengantisipasi datangnya musim kemarau. Salah satunya melalui aplikasi Sistem Informasi Peringatan Dini dan Penanganan Perubahan Iklim pada sektor pertanian (Si-Perditan). Aplikasi digital ini berfungsi menginformasikan potensi kekeringan yang akan melanda di sebagian besar daerah di Indonesia. 

Dari aplikasi ini, diperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi di bulan Agustus – Oktober 2019 dan akan mulai musim hujan di bulan November 2019. Jadi ada pergeseran musim hujan 1-2 bulan yang biasanya terjadi musim hujan di bulan Oktober. Alamat website aplikasi Si-Perditan http://sipetani.pertanian.go.id/siperditan/.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementan) Ketut Karyasa menjelaskan, aplikasi Si-Perditan menyediakan berbagai fitur. Di antaranya peta informasi curah hujan secara real time tiap 1 jam dari citra satelit Himawari-8, prediksi ENSO yakni terkait dengan prediksi kejadian kekeringan (el-nino) maupun banjir (la-nina) sampai 8 bulan ke depan. 

Lainnya adalah prakiraan curah hujan 6 harian maupun prakiraan curah hujan bulanan selama 6 bulan ke depan yang sangat bermanfaat untuk perencanaan pola tanam, dan peta potensi kebakaran lahan.

Selain itu, ada fitur peta sebaran dan prakiraan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan penyakit hewan, peta sebaran monitoring tinggi muka air (TMA) yang ada di 180 waduk/bendungan, dan kamus yang berisikan penanganan OPT sehingga sangat bermanfaat buat petani untuk pengendalian OPT. 

"Fitur-fitur informasi yang ada dalam aplikasi Si-Perditan dibuat secara dinamis dan interaktif serta berbasis geospasial," kata Ketut.

Dengan memanfaatkan fitur dalam aplikasi tersebut, maka persiapaan dan perencanaan sebelum terjadinya bencana banjir maupun kekeringan dapat diantisipasi dan diadaptasi. Sehingga dapat mengurangi dampak kerugian akibat banjir maupun kekeringan.

Kepala Bidang Non Komoditas Pusdatin Kementan M. Lufhul Hakim menambahkan, aplikasi Si-Perditan ini sangat bermanfaat buat pemangku kepentingan. Termasuk petugas lapangan untuk menginformasikan perubahan iklim bagi masyarakat khususnya petani dalam rangka perencanaan resiko untuk mengurangi kegagalan panen dan turunnya produksi pertanian.

"Sistem ini berbasis webGIS dan mampu diakses melalui mobile browser yang dapat membantu pihak pengambil keputusan di Kementerian Pertanian maupun pemerintah daerah baik tingkat provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia," ujar Lufhul Hakim.

Aplikasi ini juga dapat membantu petani secara interaktif berkomunikasi dengan petugas pertanian dalam memperoleh bantuan terkait perencanaan pola tanam, penanganan dampak banjir dan kekeringan dan serangan OPT maupun penyakit hewan. 

Untuk informasi, Berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan hingga tanggal 20 Juni 2019 dan prakiraan peluang curah hujan sangat rendah (< 20 mm/10 hari), telah terjadi hari tanpa hujan (HTH) berturutan pada beberapa wilayah yang berdampak pada potensi kekeringan meteorologis (iklim) dengan status SIAGA hingga AWAS di beberapa daerah. 

Status awas (telah mengalami HTH >61 hari dan prospek peluang curah hujan rendah <20mm pada 20 hari mendatang >80 persen ) Terjadi di sebagian besar Yogyakarta - Jawa Timur (Sampang dan Malang), Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat (Indramayu), dan Bali (Buleleng).

Sedangkan status SIAGA (telah mengalami HTH >31 hari dan prospek peluang curah hujan rendah <20mm pada 20 hari mendatang >80 persen) terjadi di Jakarta Utara, Banten (Lebak dan Tangerang) Nusa Tenggara Barat dan sebagian besar Jawa Tengah.

"Dari laporan BMKG, monitoring terhadap perkembangan musim kemarau menunjukkan berdasarkan luasan wilayah, 35% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dan 65% wilayah masih mengalami musim hujan," kata Lufhul Hakim.

Wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi pesisir utara dan timur Aceh, Sumatera Utara bagian utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.

"Musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali. Beberapa daerah diprediksikan masih berpeluang mendapatkan curah hujan. Pada umumnya prospek akumulasi curah hujan 10 harian ke depan, berada pada kategori Rendah (<50 mm dalam 10 hari)," tambahnya.

Meski demikin, beberapa daerah masih berpeluang mendapatkan curah hujan kategori memengah dan tinggi. Curah hujan kriteria Menengah (50 – 150 dalam 10 hari) diprakirakan dapat terjadi di pesisir Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, Jambi bagian  barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Sulawesi bagian tengah, Papua Barat bagian utara dan Papua bagian utara.

Curah hujan kriteria Tinggi (>150 dalam 10 hari) diprakirakan dapat terjadi di pesisir timur Sulawesi Tengah dan Papua bagian tengah.

Pantauan BMKG dan beberapa Lembaga Internasional terhadap kejadian anomali iklim global di  Samudera Pasifik menunjukkan kondisi El Nino Lemah. Sedangkan Anomali SST di wilayah Samudera Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif. 

"Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga Oktober November Desember (OND) 2019," ujar Lufhul Hakim.

Kementan sudah melakukan berbagai upaya dalam penanggulangan dampak kekeringan. Di antaranya adalah pemberian bantuan pompa air, membangun/rehabilitasi daerah irigasi tersier, membentuk Brigade pananganan kekeringan di masing-masing daerah, dan pembangunan embung, dam-parit, sumur dalam dan dangkal di beberapa daerah kekeringan. 

"Termasuk mengembangkan aplikasi Si-Perditan berbasis webGIS yang mudah di akses oleh masyarakat khususnya petani ini," ungkap Lufhul Hakim

Sistem aplikasi Si-Perditan mendapat sambutan positif. Di antaranya dari petugas pertanian lapangan (PPL) dan pengamat organisme pengganggu tanaman (POPT). Sistem ini dianggap sangat bermanfaat untuk perencanaan pola tanam dan sistem budidaya pertanian yang mengurangi risiko kegagalan panen dan produksi. Hal ini disampaikan pada saat dilakukan uji coba dan sosialisasi di Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Cianjur, dan Brebes.

Selain pengembangan aplikasi Si-Perditan, kontribusi Pusdatin dalam pengembangan teknologi pertanian menuju era Industri 4.0 juga telah dilakukan sebelumnya bersama-sama dengan LAPAN. Yakni dalam pengembangan aplikasi pemantauan fase pertanaman padi berbasis citra satelit Simotandi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA