Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Masjid Berusia 4 Abad di Bangladesh Butuh Sentuhan Renovasi

Sabtu 29 Jun 2019 13:50 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih

Masjid Atia di Bangladesh.

Masjid Atia di Bangladesh.

Foto: star
Masjid Atia rusak parah akibat guncangan gempa bumi pada 1800.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGAIL — Dua masjid kuno di Delduar Upazila, Tangail, berada dalam kondisi kumuh tak terawat. Kedua masjid yang berusia ratusan tahun itu membutuhkan renovasi segera.

Seperti dilansir di The Daily Star pada Kamis (28/6), Masjid Atia, salah satu dari kedua masjid, berusia lebih dari empat abad. Masjid itu terdaftar sebagai situs arkeologi di Departemen Arkeologi. Sementara Masjid Sawdagori, masjid lainnya, berusia 182 tahun dan belum terdaftar sebagai situs arkeologi.

Menurut Departemen Arkeologi, Zamindar Syed Khan Panee membangun Masjid Atia di samping sungai Louhajang pada 1609. Masjid Atia rusak parah, akibat guncangan gempa bumi pada 1800. Selama periode waktu, masjid itu direnovasi secara bertahap oleh tuan tanah berbeda-beda dan pedagang di wilayah itu.

Kemudian pada 1978, Departemen Arkeologi mengambil alih tanggung jawab Masjid Atia. Foto masjid tersebut muncul dalam mata uang Bangladesh pecahan 10 taka (Rp 1.670) pada 1996.

Masjid Sawdagori yang berlokasi tidak jauh dari Atia, dibangun oleh Rowshan Khatun Chowdhurani. Dia adalah seorang pedagang wanita dari Delhi pada 1837.

Pejabat lokal dari Departemen Arkeologi memperkirakan segera melakukan renovasi terhadap Masjid Atia. Namun, mereka tidak akan melakukan renovasi terhadap Masjid Sawdagori, karena belum terdaftar di departemen itu.

“Struktur indah Masjid Atia terukir pola terakota rumit yang telah memudar, sementara plak hiasan di dinding telah luntur. Beberapa retakan juga terlihat di atap masjid,” kata imam Masjid Atia, Farid Ahmed.

Pria yang sudah 16 tahun menjadi imam di sana mengatakan kegiatan ibadah masih dilakukan di Masjid Atia. Setiap hari, selalu ada pengunjung yang datang untuk menyaksikan warisan arkeologi itu. Meskipun sebagian besar fisik masjid diperbaiki pada 2000 dan dibersihkan pada 2010, pekerjaan perbaikan lebih lanjut masih sangat diperlukan.

Di sisi lain, Masjid Sawdagori dalam keadaan terabaikan dan hampir rusak. Tidak ada lagi kegiatan ibadah di masjid itu. Pun jarang wisatawan mengunjungi masjid itu.

Pengawas Hazrat Shahan Shah Dakhil Madrasah, Abdul Aziz menjelaskan pilar batu bata di sisi tenggara masjid, dalam kondisi rusak sejak beberapa tahun lalu. Sementara pada sisi timur laut, kemungkinan pilar dapat runtuh sewaktu-waktu. Komite dari madrasah itu telah mengajukan proposal ke Administrasi Upazila untuk mengambil langkah-langkah melindungi masjid kuno.

Direktur regional Departemen Arkeologi, Rakhi Roy dan beberapa insinyur mengunjungi Masjid Atia beberapa bulan lalu. Setelah memeriksa kondisi masjid, Roy dan tim mendapati kondisi Masjid Atia tidak seburuk yang dipikirkan masyarakat setempat. Kendati demikian, menurut dia, Masjid Atia kuno perlu beberapa renovasi. Pekerjaan itu akan dimulai pada tahun depan.

”Namun, kami tidak ada hubungannya dengan masjid lain (Masjid Sawdagori) untuk saat ini, karena belum terdaftar di departemen,” kata Roy.

Dalam satu dekade terakhir, The Daily Star memuat berita tentang kondisi Masjid Atia yang rusak, yakni pada 2008, 2010, dan 2015. Namun pihak berwenang yang bersangkutan, belum mengambil langkah-langkah untuk merenovasi dan mengembalikan kejayaan Masjid Sawdagori.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA