Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Bahaya Anak Konsumsi Pemanis Buatan Berlebih

Jumat 28 Jun 2019 10:48 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Makanan manis kesenangan anak-anak.

Makanan manis kesenangan anak-anak.

Foto: pixabay
Pemanis apapun, termasuk yang alami, memiliki efek yang harus diwaspadai ke anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dengan alasan kepraktisan, orang tua sering kali memberikan makanan atau minuman dengan kandungan pemanis buatan. Tetapi orang tua lupa, apabila anak mengonsumsinya berlebihan tentu bisa memberikan dampak bahaya.

Dilansir laman Independent, dampak bahayanya tentu dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan. Konsumsi berlebihan gula pada bayi dan anak-anak, terutama dalam bentuk cair, terkait dengan berbagai kondisi kesehatan, baik jangka pendek dan di kemudian hari termasuk kerusakan gigi, kelebihan berat badan hingga diabetes tipe 2.

Royal College of Pediatri dan Kesehatan Anak (RCPCH) telah memperingatkan bahwa peraturan yang lebih ketat mengenai kadar gula yang dapat dimasukkan dalam makanan bayi dan balita. Mengonsumsi produk yang sudah jadi atau terdapat pemanis buatan membuat anak berisiko mengonsumsi terlalu banyak gula.

Profesor Mary Fewtrell, pemimpin nutrisi RCPCH menjelaskan bahwa makanan yang rasanya manis dapat membuat bayi enggan untuk lebih banyak mencicipi sayuran yang asam. "Makanan bayi dapat diberi label 'tanpa gula tambahan' jika gula berasal dari buah, tetapi semua gula memiliki efek yang sama pada gigi dan metabolisme," kata Fewtrell.

Sangat penting untuk mengenali bahwa bayi memiliki preferensi bawaan untuk rasa manis. Tetapi kuncinya adalah bukan untuk memperkuat preferensi itu, melainkan mendorong mereka mengenal rasa dan tekstur makanan yang berbeda.

Sebenarnya bayi bisa sangat mudah untuk mencoba rasa yang berbeda jika mereka diberi akses. Penting untuk mereka diperkenalkan terhadap berbagai rasa termasuk makanan yang lebih pahit seperti brokoli dan bayam dari usia dini.

Sedangkan jika diberi produk kemasan atau sudah jadi bisa membuat bayi kehilangan kesempatan untuk belajar makan dari sendok atau makan sendiri, di samping bahaya konsumsi gula berlebih.

Komite Penasihat Ilmiah tentang Gizi (SACN) merekomendasikan bahwa pemanis buatan tidak diberikan lebih dari lima persen dari total asupan energi harian untuk mereka yang berusia dua tahun ke atas. Jumlahnya bahkan lebih sedikit untuk anak di bawah dua tahun.

Namun, Survei Diet dan Gizi Nasional menunjukkan asupan rata-rata harian untuk anak satu-setengah hingga tiga tahun saat ini adalah 11,3 persen. Atau lebih dari dua kali lipat jumlah yang direkomendasikan.

Laporan tersebut mengikuti jajak pendapat tahun 2018 oleh produsen alat rumah tangga Beko yang menemukan bahwa separuh dari orang tua Inggris telah "menyerah" berusaha membuat anak-anak mereka soal aturan lima persen tersebut.

Survei terhadap 2.000 orang tua anak-anak hingga usia 10 tahun menemukan 41 persen mencoba memberikan sayuran hijau ke dalam makanan anak-anak. Selain itu, lima persen mengakui bahwa mereka tidak menganggap penting terkait rekomendasi itu.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA