Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

ISIC 2019, Kesempatan Untuk Songsong Momentum Indonesia Emas

Kamis 27 Jun 2019 22:08 WIB

Red: Irwan Kelana

Para peserta, pembicara dan panitia ISIC tahun 2019 berfoto bersama.

Para peserta, pembicara dan panitia ISIC tahun 2019 berfoto bersama.

Foto: Dok Panitia ISIC 2019
ISIC 2019 diikuti 100 peserta dari beberapa universitas di Indonesia dan Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, NOTTINGHAM -- Indonesian Scholars International Convention (ISIC) 2019 baru saja digelar di University of Nottingham, Inggris, 22-23 Juni 2019.  Acara dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya dan Irlandia, Dr  Rizal Sukma, dan Vice Chancellor University of Nottingham, Prof  Shearer West. 

“ISIC merupakan kegiatan besar yang memberikan manfaat kepada segenap pelajar Indonesia di Inggris dan negara lainnya,” kata Rizal Sukma seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (26/6).

“Kerja sama University of Nottingham dengan 19th ISIC dari PPI UK merupakan salah satu bentuk dukungan dan kerja sama antara Inggris dan Indonesia dalam membangun resiliensi Indonesia 2045 melalui pendekatan triple-helix,” kata  Prof  Shearer West.

ISIC  merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris (PPI UK). ISIC menjadi kesempatan bagi akademisi, kalangan praktisi dan profesional Indonesia di  kancah internasional untuk berbagi ide dan membangun kolaborasi. 

ISIC 2019 mengusung tema utama “Embracing Indonesia Resilience 2045: A triple-helix approach of economic, social and infrastructure developments from Indonesia-UK perspective”. 

Sebagai student-led-activity, kepanitiaan ISIC beranggotakan para pelajar dan peneliti dari berbagai universitas se-Inggris Raya. Lury Sofyan, selaku ketua Panitia dari ISIC ke-19  menjelaskan bahwa ISIC tahun 2019 merupakan kesempatan untuk menyongsong momentum Indonesia emas. “Karena itu,  seluruh komponen bangsa terutama pemerintah, akademisi dan industri perlu meningkatkan kolaborasi untuk mendorong inovasi dan kerja nyata bagi Indonesia,” ujarnya.

Pada 19th ISIC, lebih dari 100 peserta dari beberapa universitas di Indonesia dan Inggris menghadiri beragam sesi selama dua hari. Sebanyak 27 pembicara yang berasal dari beragam latar belakang dan bidang keahlian mengisi dua sesi plenary dan 12 sesi paralel. Komite tim ilmiah yang diketuai oleh Wahyudin P. Syam melalui peer-review telah memilih 76 tulisan ilmiah terbaik dari 235 jumlah total yang diterima tim panitia Call for Paper. Dari 18 tulisan terbaik, ada delapan yang dipresentasikan dan jumlah peserta poster presentation mencapai 40. 

Angga Fauzan, koordinator tim Eksternal menyampaikan, antusiasme peserta ISIC tahun ini sangat tinggi. Pendaftar general participant dan submission paper meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. 

“Panitia menerima 235 paper dari delapan  negara. Sebanyak  225 paper berasal dari lembaga universitas dan sepuluh lainnya berasal dari industri perusahaan, institusi  pemerintahan maupun lembaga riset. Tidak hanya peserta Call for Paper yang menunjukkan animo tinggi, panitia sempat membuat skema waiting list untuk pihak yang mendaftar sebagai general participants,” papar Angga Fauzan.

Kegiatan tanggal 22 Juni dimulai dengan sesi plenary oleh beberapa pembicara kunci mengenai berbagai perspektif landasan dari tema utama, seperti Prof  Dr  Ali Ghufron Mukti yang memaparkan mengenai rencana jangka panjang pendidikan tinggi.

Ia mengatakan, pendidikan tinggi merupakan salah satu pondasi penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia sehingga mereka mampu beradaptasi dengan rencana pembangunan Indonesia demi mencapai resilien 2045.  “…the role of education is to escape middle income…by improving competitiveness and increasing people’s prosperity through higher education,” tuturnya. 

Lely Pelitasari Soebekty SP, ME, wakil Ketua Ombudsman RI  menyampaikan topik mengenai peran pemerintah dan governance urgency dalam mempersiapkan 2045 bagi Indonesia, terutama dari sisi aspek penyedia public services atau pelayanan publik yang berintegritas.

Menurutnya, ombudsman ada untuk mengawasi bahwa good governance dilaksanakan dengan baik oleh pihak-pihak yang terlibat, “to achieve good governance and good public service in Indonesia, we need to start now, we need to start from ourselves,…. Integrity is all”.

photo
Salah satu sesi dalam ISIC tahun 2019.
Rangkaian ISIC pun memiliki 12 parallel session dengan tema yang meliputi  pendidikan dasar, perkembangan ilmu pengetahuan, keberlanjutan lingkungan, korupsi dan kemiskinan, sistem kesehatan, manajemen bencana alam, transportasi, ekonomi kreatif, hingga Big Data. Seluruh tema penting tersebut menjadi lebih menarik dengan pemaparan dari para pembicara yang berasal dari berbagai sektor.

Dalam sesi ini, para peserta dapat mendengarkan penjelasan para narasumber sekaligus berdiskusi secara langsung dengan mereka, seperti diskusi dalam sesi kesehatan bersama Prof  Ali Ghufron Mukti dan Dr  Dono Widiatmoko, yang membahas mengenai perbandingan sistem asuransi kesehatan di Inggris dan Indonesia.

“NHS yang telah mapan secara sistem pun tidak lepas dari perubahan dan adaptasi, sehingga BPJS pun perlu dipandang sebagai proses perubahan dan adaptasi menuju sistem yang dapat meningkatkan aksesibilitas kesehatan yang lebih merata,” kata Ali Ghufron.

Di setiap sesi paralel, peserta oral presentation yang merupakan peneliti dari bermacam-macam latar belakang, baik pelajar, akademisi, maupun kaum profesional mendapat masukan yang berguna bagi perkembangan riset mereka dari pembicara utama di masing-masing sesi. Mengingat pentingnya acara ini, Revian Wirabuana, General Secretary dari 19th ISIC mempersiapkan student convention ini dengan sebaik-baiknya sejak akhir tahun 2018.

Pada acara penutupan yang merupakan kegiatan terakhir dalam rangkaian ISIC  tahun 2019 dan dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof  Aminudin Aziz, dilakukan pemberian penghargaan kepada dua peserta terbaik di tiap kategori oral dan poster presentation

Head of Operational ISIC tahun 2019 Teguh Adinugroho  mengatakan,   dukungan dari University of Nottingham memegang peranan penting dalam kegiatan ini. Misalnya untuk memfasilitasi berbagai ruangan hingga konsumsi selama berlangsungnya penyelenggaraan acara.

Ekawati Sudjono, Head of Program ISIC tahun 2019 menyebutkan beberapa elemen penting yang turut mendukung suksesnya kegiatan ini selain KBRI dan PPI UK adalah Persatuan Pelajar Indonesia Nottingham (PPI Nottingham), Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (KIBAR), Lingkar Studi Papua (LSP), Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), dan Nusantara Innovation Forum (NIF).

"Selain itu kolaborasi antara Dr Bagus Muljadi selaku director of the Indonesia Doctoral Training Partnership (IDTP), University of Nottingham dan Jason Feehily selaku director of Knowledge Exchange Asia, University of Nottingham dalam mendukung penyelenggaraan  ISIC tahun 2019  sangat patut untuk diberi apresiasi yang tinggi," kata Ekawati.

Ia menambahkan, hal lain yang sangat penting untuk digarisbawahi dan selayaknya diteruskan dalam penyelenggaraan ISIC berikutnya adalah 19th ISIC menggandeng beberapa jurnal yang sudah memiliki indeks scopus untuk menerbitkan tulisan ilmiah terbaik dalam ajang ini dan menerbitkan e-prosiding yang memiliki ISSN.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA