Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Pengamat: Sudah Saatnya Pemilu Indonesia Terapkan E-Voting

Kamis 27 Jun 2019 01:30 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Petugas menata susunan kartu pintar saat simulasi pemungutan suara secara elektronik (E-Voting) di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Petugas menata susunan kartu pintar saat simulasi pemungutan suara secara elektronik (E-Voting) di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Sistem pemungutan suara e-voting dalam pemilu diyakini dapat minimalisir sengketa.

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH BESAR -- Pengamat politik dari Universitas Syiah Kuala, Effendi Hasan, berpendapat sudah saatnya Indonesia menerapkan sistem pemungutan suara secara elektronik (e-voting). Sistem tersebut dapat diterapkan dalam pemilihan umum maupun dalam pemilihan kepala daerah.

"Belajar dari pengalaman kasus Pemilu 2019, saya pikir sudah saatnya pemerintah melakukan pemungutan suara secara elektronik," kata dia, di Banda Aceh, Rabu.

Effendi meyakini bahwa e-voting dapat mengurangi sengketa pemilu. Ia mengungkapkan, berbagai negara telah membuktikan efektivitas pemungutan suara secara elektronik.

"Saya yakin sistem ini akan mengurangi kecurangan, sengketa pemilu, dan akan sangat efektif," kata dia.

Menurut Effendi, dengan penerapan sistem pemungutan suara secara, tidak ada lagi penghitungan cepat dari lembaga survei. Itu karena dalam waktu sehari sudah diketahui pemenangnya berdasarkan data yang masuk dari lapangan.

"Saya mengambil contoh Singapura, Malaysia, satu hari (pemilu) selesai dengan pemilu secara elektronik. Kita sudah tahu mana partai yang memenangkan perdana menteri," katanya.

Effendi menyebutkan Indonesia sudah sangat mampu menerapkan sistem pemungutan suara secara elektronik dan turut didukung dana yang mencukupi. Ia mengatakan, memilih pemimpin yang berintegritas sangat ditentukan proses pemilihan dan jika proses tersebut tidak baik maka pasti akan menghasilkan pemimpin tidak baik.

"Saya pikir dengan perkembangan teknologi 4.0 Indonesia sudah siap. Orang lain sudah gunakan, kita tinggal tunggu sistem ini digunakan saja," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA