Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Meleburnya Budaya Melayu, Arab, dan Cina di Musik Betawi

Rabu 26 Jun 2019 08:13 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Syech Albar, musisi yang memperkenalkan orkes gambus ke Indonesia.

Syech Albar, musisi yang memperkenalkan orkes gambus ke Indonesia.

Foto: Tangkapan layar/IST
Musik Betawi seperti sabrah, gambus, dan gambang kromong peleburan berbagai budaya

Jakarta baru saja melewati usia ke 492 tahun pada 22 Juni 2019. Tanggal itu ditetapkan Pemda DKI karena dinilai sesuai saat Fatahillah menghalau armada Portugis dari Bandar Sunda Kalapa. Namun, Orang Olanda (sebutan warga Betawi untuk Belanda), merayakan ulang tahun Batavia setiap 30 Mei karena merujuk saat gubernur jenderal JP Coen menaklukkan Jayakarta pada 30 Mei 1619.

Ngomongin soal HUT Jakarta, kurang afdol rasanya jika tak membicarakan keseniannya. Boleh dibilang kota metropolis ini memiliki berbagai ragam kesenian. Penduduk Betawi disebut majemuk. Konon tidak kurang 300 etnis dan bangsa berbaur dengan damai di kota yang kini berpenduduk lebih 10 juta itu. Ada Melayu, Jawa, Sunda, Padang, Batak, Bugis, Cina, Arab, India, dan masih banyak lagi. Sehari-hari mereka bergaul, saling menghormati dan membantu.

Tidak heran kalau kesenian Betawi sangat beragam. Seperti kesenian sambrah yang berasal dari Arab. Sambrah berasal dari kata bahasa Arab, samarokh, yang artinya berkumpul atau pesta. Kata samarokh oleh orang Betawi diucapkan menjadi sambrah. Dalam kesenian Betawi, sambrah menjadi jenis kesenian musik atau orkes sambrah dan tonil sambrah. Orkes atau tonil ini biasa pentas di tempat orang berkumpul dan memeriahkan pesta.

Tonil sambrah dikembangkan dari teater bangsawan dan komedi stambul. Kata stambul berasal dari Istambul, pusat kegiatan Islam pada masa Kesultanan Utsmani.

Tonil sambrah sudah muncul di Betawi sekitar 1918. Ia termasuk kesenian yang komplit. Dalam pentasnya tergabung seni musik, pantun, tari, lawak, dan lakon. Sayangnya, pada 1940-an tonil sambrah menghilang. Baru pada 1950-an muncul kembali, tetapi namanya menjadi orkes harmonian. Sesudah masa itu, perannya digantikan oleh orkes melayu yang kini menjadi dangdut.

Berasal dari Timur Tengah, orkes gambus dulu dikenal dengan sebutan irama padang pasir. Pada 1940-an, orkes gambus menjadi tontonan yang disenangi. Bagi orang Betawi, tanpa nanggap gambus pada pesta perkawinan dan khitanan terasa kurang sempurna.
Orkes ini sudah ada di Betawi sejak abad ke-19 ketika banyak imigran dari Hadramaut (Yaman) datang ke Betawi. Kalau para walisongo menggunakan gamelan sebagai sarana dakwah, imigran Hadramaut menggunakan gambus.

Awalnya, orkes gambus membawakan lagu-lagu bersyair bahasa Arab, berisi ajakan beriman dan bertakwa kepada Allah dan mengikuti teladan Rasulullah. Kemudian gambus berkembang menjadi hiburan. Sekarang ini, pesta-pesta keturunan Arab banyak menghadirkan kembali gambus. Sementara para hadirin hanyut dalam pesta zapin menggerak-gerakkan badan seperti layaknya berjoget.

Berkembangnya orkes gambus tidak dapat dipisahkan dari peran Syech Albar, yang lagu-lagunya dikenal bukan hanya di Indonesia tapi juga di Timur Tengah. Syech Albar adalah ayah pemusik rock Ahmad Albar, dan ayah dari Fachri Albar, pemain film dan sinetron terkenal.

Sampai 1940-an, lagu gambus masih berorintasi ke Yaman. Sejak berdirinya bioskop Alhambra (kini jadi pertokoan), yang memutar film-film Mesir, gambus beralih ke irama negeri Sungai Nil.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA