Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Susy Susanti Akui Sulit Mencari Tunggal Putri Petarung

Senin 24 Jun 2019 17:10 WIB

Rep: Fitriyanto/ Red: Israr Itah

Susy Susanti

Susy Susanti

Foto: Dok PBSI
Susy menilai, tunggal putri menjadi sektor yang paling tertinggal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) Pengurus Pusat (PP) PBSI Susy Susanti mengakui saat ini masih berjuang untuk mengejar ketertinggalan di sektor tunggal putri. Susy menilai, tunggal putri menjadi sektor yang paling tertinggal dibanding empat sektor lainnya di pelatnas. 

Hadirnya Rionny Mainaky yang kini menjadi kepala pelatih tunggal putri diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan prestasi Gregoria Mariska Tunjung dkk. 

"Saat ini tunggal putri yang harus ekstra kerja keras, makanya kenapa saya bawel ngomong terus, bukan menganakemaskan tunggal putri, tapi saya mau memacu semangat mereka. Saya bilang, 'Saya tidak terima, lho. Kita tuh bisa, bukannya nggak bisa, walaupun cuma satu orang, tapi bisa'. Bagaimana caranya menemukan yang satu orang ini," kata Susy dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (24/6). 

Ia mengatakan harapan PBSI ada pada Gregoria. Namun, penampilan sang pemain masih turun naik, terkadang bagus, namun tak jarang kalah oleh dirinya sendiri. Selain itu, kata Susy, badan Gregoria juga belum ideal. Sang pemain kurang konsisten menjaga kondisi. Alhhasil latihan terpotong karena sakit.

"Sudah naik, turun lagi. Bagaimana mau ke atas kalau sudah mulai naik, sakit. Nanti sudah naik lagi, sakit lagi, kan susah," ujar Susy.

Susy juga mengungkapkan beberapa pemain yang sudah memiliki persiapan begitu bagus di latihan, namun tidak bisa mengeluarkan kemampuannya saat bertanding. Susy mengaku sempat bercanda ingin memberikan mereka daging macan agar galak di lapangan. Ia menginginkan para pemain tunggal putri lebih tangguh saat di lapangan. Menurut dia, saat di lapangan pemain harus berpikir seperti perang, jika tidak melawan akan mati. 

Hal-hal yang terlihat sepele, dikatakan Susy, terkadang menentukan karakter pemain. Kebiasaan-kebiasaan pemain yang terlalu pasrah bisa menjadi hambatan di lapangan, membuat si pemain dinilai kurang memiliki daya juang yang lebih. 

"Di lapangan itu harus kejar bola ke manapun, mungkin ini sepertinya sepele, tapi kan kebiasaan. Mungkin sudah terbiasa 'ya sudahlah'. Nggak bisa seperti itu kan, makanya mindset-nya harus diubah, sikapnya diubah," ujar peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 ini. 

Perbaikan di tunggal putri, dituturkan Susy masih akan memakan waktu yang tak sebentar. Dari target seratus persen, kini perkembangan tunggal putri. menurut dia, masih ada di tingkat 20-30 persen. 

Diakui Susy menemukan pemain yang memiliki potensi dan kemauan memang tidaklah mudah. Ada pemain yang memiliki potensi, tapi tidak memiliki kemauan dan sebaliknya. Ia pun mengatakan sudah banyak memberikan masukan, nasihat dan bimbingan ke atlet, namun kembali lagi, si atletlah yang akan menentukan nasibnya sendiri dan menjadi ujung tombak dalam menentukan prestasinya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA