Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Sultan: Idul Fitri Momen Membangun Jembatan Islah

Rabu 05 Jun 2019 08:10 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nidia Zuraya

Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Foto: Antara
Idul Fitri sebagai momentum merekatkan kembali persaudaraan bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai, Idul Fitri 1440 Hijriah memiliki posisi yang sangat istimewa. Menurut Sultan, Idul Fitri sebagai momentum merekatkan kembali persaudaraan bangsa.

Sultan mengatakan, ketika fajar satu syawal terbit tanda Ramadhan pergi, tidak ada lagi yang dilantunkan selain takbir, tahlil dan tahmid. Tujuannya, tidak ada lain mengagungkan asma Allah SWT.

Ia menilai, Idul Fitri bukan sekadar untuk merayakan kegembiraan. Tapi, menandai lembar kehidupan baru memasuki gerbang pintu maaf penyejuk kedamaian hati.

Menurut Sultan, Bangsa Indonesia patut pula bersyukur karena telah selamat ke luar dari kemelut negeri berkat kesigapan dan kesiapan aparat. Ia melihat, mereka telah berjihad menegakkan konstitusi.

Ia berpendapat, kata-kata penuh amarah dan kebencian membuat hati gundah tidak terperikan. Tapi, kata-kata sarat maaf membuat hati tercerahkan, sehingga langkah menjadi ringan.

"Ringan dalam mengetuk hati nurani untuk tabayun, saling mendekat, membangun jembatan islah," kata Sultan, Rabu (5/6).

Sultan berharap, Tuhan Yang Maha Bijaksana senantiasa menunjukkan jalan yang bijak dan penuh hikmah. Utamanya, dalam menyelesaikan setiap perbedaan antar anak bangsa.

Kepada masyarakat DIY, Sultan mengajak sama-sama merajuk benang-benang Islam rahmatan lil alamin. Tujuannya, menguatkan kohesi sosial agar terbangun kembali semangat guyub rukun antar warga.

"Hendaklah kita merayakan perbedaan sebagai rahmat untuk saling menghargai dengan penuh toleransi atas pilihan dan keyakinan masing-masing," ujat Sultan.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat memanfaatkan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah untuk mempereat kembali tali silaturahim. Namun, tidak sebatas jabat tangan dan saling memaafkan.

Justru, ini jadi momentum tepat mengembangkan jadi kebersamaan, kerja sama, saling berbagi dan bersinergi. Utamanya, dalam membangun peradaban bermartabat mengejar kemajuan dunia.

Terakhir, ia mengajak masyarakat memetik hikmah dan pesan hari kemenangan yang penuh rahmat dan berkah. Yaitu, dengan saling berucap minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.

"Insya Allah, akan terbuka pintu maaf di setiap hati kita agar kembali bersemi bagaikan embun nan fitri di pagi hari," kata Sultan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA